Tuesday, 11 November 2014

Kita Punya Cerita

11 November 2014,


Malam ini, I don't know why, I miss him so much much much. Kebetulan tadi gue dengerin radio dan secara tidak sengaja mereka nyetel lagu-lagu yang bikin gue flashback ke jaman-jaman masih pacaran dulu. Gagal move on? Nggak. Gue memang belum move on kok. Gimana mau move on kalau si jambul masih terus terusan kasih perhatian? Huft.

Well, tadi mereka play lagu "GAC - Bilang Cinta". Gue inget, semester 3 gue suka banget sama lagu itu dan sering banget gue play di mobilnya masjun. Dia nggak pernah protes, dia malah sampai hafal liriknya. Hahaha! Yah, kangen. Kangen aja. Kadang pingin balik ke masa-masa itu. Masih ada dia, tugas masih sedikit, belum mikirin skripsi. Pokoknya, semester 3 itu fun banget!

Oh ya, gue belum bilang kalau si jambul udah cabut ke Jerman ya? Hihihi... Ya.... akhirnya dia memang ke Jerman. Udah berangkat dari bulan Oktober, dan sempet nangis-nangisan di airport gitu. Well, gue sih yang nangis. Dia cuma nenangin gue aja. Sedih? Pasti! Tapi, pas banget tanggal 3 November, pas banget gue birthday, dia pulang dooooong ke Jkt meskipun cuma 2 hari. Itu benar-benar kado spesial yang pernah ada! Waktu itu dia bawa bunga dan novel pertama gue sambil nyanyi happy birhday, secara tiba-tiba gitu, ceritanya surprise. Dan gue.... speechless. Gue nggak tau mau ngomong apa, yang jelas SENENG BANGET. Yah, meskipun cuma dua hari di Indonesia, tapi gue tetep seneng kok. Kak Patrick pernah nanya gue dikasih hadiah apa sama Juno. Gue jawablah, "Dikasih niat."

Ya niat pulang cuma buat ketemu gue lah, niat nabung buat beli tiket lah, niat sempetin waktunya... Pokoknya niat! Dan itu hadiah termahal, karena tiket pesawatnya juga mahal. Hahaha!

Kembali flashback ke semester 3, kembali inget Juno, kembali dan kembali dan kembali mengingat masa-masa itu. Masa-masa itu nyenengin banget. Kita punya banyak cerita yang bisa di share sekarang dan kedepannya. Kalau diceritain semua.... nggak cukup waktu 1 jam kayaknya. Yah, nyenengin sih ada cerita yang bisa dikenang. Kita nggak tau kedepannya bakal gimana, tapi mengenang masa-masa itu nggak pernah salah kan? Ada sedih, ada senang.... kebanyakan senangnya sih

Duh, gue curcol...

Curcol di blog....

Nggak tau gue tulis ini dengan topik apa, gue cuma mau bilang aja kalo gue senang bisa mengingat-ingat kembali cerita dulu.

Intinya, gue senang kita sempat punya cerita.

Sunday, 21 September 2014

Memulai Perkuliahan Tingkat Akhir

21 September 2014,





Yayy!!! Besok, tepat tanggal 22 September 2014, gue sudah dinyatakan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Selesai? Belum. Gue masih harus melewati masa-masa magang dan nyusun skripsi di semester delapan nanti. Kenapa nggak ambil skripsi di semester tujuh, Sar? ya karna dari kampus gue sudah menentukan untuk nyusun skripsi di semester delapan bagi jurusan Marketing Communication. Senang? Tentu! Gue selalu excited tiap semester. Pokoknya, tiap memasuki semester baru, gue selalu excited. Seneng aja, nggak sabar ketemu teman baru, kelas baru, kenalan baru (ups?). Hahaha... pokoknya semester baru itu nyenengin! Yah, meskipun ternyata nantinya nggak semenyenangkan dan se-excited itu sih.

Besok udah masuk semester tujuh. Gimana sama nilai gue di semester kemarin? Alhamdulillah, masih terbilang baik. Tapi, nggak bagus-bagus banget juga. Yah, intinya lumayan bagus lah. Semester tujuh nanti, gue udah bisa ngebayangin gimana sibuknya. Tugas-tugas kuliah pasti akan numpuk, dan mendekati semester akhir (delapan) pasti semakin deg-degan sama yang namanya nyusun skripsi. Ampun... gue aja belum punya gambaran gimana bentuknya skripsi itu. Yang jelas, semester tujuh nanti gue mungkin akan sering-sering ke perpus buat liat contoh skripsi. Kata nyokap gue juga, gue udah harus mulai mikirin judul dan segala macamnya. Katanya sih, biar nanti di semester delapan nggak kagok-kagok banget.

Semester tujuh juga pasti sedih. Si jambul yang biasa gue ceritain akan lanjut kuliahnya di negri orang. Dia akan cabut bulan Oktober nanti. Cepet banget, kan? Yah, mungkin dia mau cari tempat tinggal dan ngurus ini-itu dulu. Sedih? Iya, sedih nggak ada yang nemenin dijemput lagi. Sedih nggak ada yang ngasih semangat lagi kalo mau ujian. Dia pasti akan sangat teramat sibuk disana. Gue? Gue juga pasti sibuk sih. Yah, tapi nggak papa. Kalau nantinya dia sukses, kan gue juga yang bangga sebagai mantannya. Hahaha!

Well, di semester tujuh nanti gue nggak berharap macem-macem banget. Gue cuma berharap semuanya bisa berjalan lancar, bisa tetap semangat kuliah (tanpa ada si jambul yang selalu kasih semangat), bisa sekelas sama teman yang baik-baik, bisa mencapai IP yang gue targetkan (amin) dan yang paling penting, bisa selalu bahagia. Hehehe...

Gimana kelanjutan di semester tujuh nanti? Yah, tunggu gue ngepost di semetser tujuh nanti.





Love,



S.

Wednesday, 20 August 2014

No Social Media, No Life?

20 Agustus 2014,




Syelamat malaaam! Baru banget gue ngomongin tentang org yg nggak main socmed di twitter. Nah, menurut gue ini cukup menarik untuk dijadikan topik menulis. Di era sekarang ini, era teknologi yang semakin canggih ini, gue yakin rata-rata banyak yang punya social media. Ya entah twitter, path, instagram, dll. Nah, tadi gue kepo aja tiba-tiba. Apa masih ada orang yang nggak main socmed? Kalau gue sih pasti jawab ada. Gue kenal sama beberapa orang yang emang nggak main socmed. Salah satunya ya... si jambul.

Gue nggak ngerti juga sih kenapa dia nggak main socmed. Setiap gue tanya dan gue suruh  bikin, dia selalu jawab, "Kalau nanti menurutku penting, pasti aku bikin." Tapi, biar begitu, temannya si jambul ini  banyak loh. Hanya karena dia nggak main socmed, bukan berarti dia nggak punya teman. Dia punya teman banyak! Bahkan mungkin, tema-temannya lebih banyak dari teman-teman gue.

Ada juga teman gue si pecinta kucing, dia nggak main socmed kecuali instagram. Dia nggak main socmed kaya twitter dan path karena menurut dia  nggak penting. Dia hanya butuh instagram buat menyalurkan hobi fotografinya dia.

Untuk beberapa orang, socmed memang nggak penting. Mungkin alasan mereka juga karena nggak mau dunia nyatanya direnggut sama dunia maya. Tapi ada juga kan beberapa orang yang bahkan merasa hidupnya hampa tanpa social media. Yah, itu namanya candu. Well, internet memang candu sih. Nah, gue mau bilang dulu kalau gue nulis ini bukan berarti gue berpihak ke yg anti socmed. Pendapat orang berbeda-beda. Mungkin  yang menurutnya ig itu penting, menurut gue nggak terlalu. Menurut gue twitter itu penting, menurut dia ternyata enggak. Ya itu dia, balik ke diri masing-masing. Balik ke pendapat masing-masing. Balik ke kepentingan masing-masing. Kepentingan orang berbeda-beda kan? Gue pribadi, gue masih butuh socmed. Kalau gue bosan, gue buka buka akun socmed yang gue punya. Yaps, gue masih sangat butuh social media.

Yah, gue cuma pesan aja kalau orang yang anti socmed itu bukan berarti dia anti sosial juga. Pendapat orang bwrbeda-beda, dan kita harus bisa menghargai pendapat orang. Yah, kita juga mestinya lihat dari semua sisi juga. Karena mungkin, mereka punya alasan sendiri kenapa nggak main socmed. Nah, untuk yang punya socmed, jangan terlalu memprioritaskan social media kamu. Kaya yang gue bilang, dunia maya itu candu. Makanya, ada yang namanya autis sama dumay. Yah, boleh lah main di dunia maya, tapi jangan sampai lupa sama dunia nyata. However, dunia nyata yaaaa dunia kamu yang nyata. Dunia nyata adalah dunia yang benar-benar kamu jalani. Jadi, jangan sampai bergantung sama dunia maya.

Sunday, 17 August 2014

Traditional Culinary: Uli

17 Agustus 2014,





Halooowww! Disini ada yang suka kuliner nggak? Gue mau bahas kuliner nih. Kuliner daerah. Kuliner khas betawi! Ya, gue mau memperkenalkan kalian pada kuliner betawi yang bernama "Tape Uli" atau sering juga disebut "Uli" aja. Pernah denger? Kalau pernah, kalian memang betul-betul cinta kuliner daerah. Hahaha! Well, uli itu rasanya enaaaak banget! Makanan ini juga salah satu makanan favorit gue pas lebaran atau acara tertentu. Sekarang sih,udah jarang orang bikin uli. Mungkin karena cara bikinnya cukup ribet, jadi banyak orang yang lebih milih makanan praktis aja. Jadi, uli adalah makanan khas betawi yang terbuat dari beras ketan paris (kalo ga salah) + kelapa + bumbu lain yang dikukus (entah dikukus atau direbus), kemudian ditumbuk menggunakan alat tumbuk. Nah, biasanya uli yang udah ditumbuk itu dibungkus pakai  daun pisang yang udah diolesaminyak. Kenapa harus dioles minyak? Kata nenek gue sih, supaya daunnya bersih dan nggak lengket. Yah... nggak paham juga sih gue. Hehehe... Nih bentuk uli yang belum ditumbuk.



Uli yang belum ditumbuk

daun pisang oles minyak


Biasanya, uli itu dimakan pakai ketan hitam. Kalau dimakan pakai ketan hitam, baru deh namanya lengkap jadi "Tape Uli". Ketan hitamnya itu rasanya manis tapi ada rasa sedikit kayak tape. Biasanya ada tuh di acara-acara tertentu, terutama lebaran. Yah, nggak yakin juga sih kalo jaman sekarang adanya di acara apa, karena seperti yang gue bilang, jaman sekarang orang lebih milih makanan yang praktis-praktis aja. Oh ya, nenek gue masih suka bikin loh sampai sekarang. Yah, tapi nggak bikin banyak juga. Paling-paling cuma buat kenalan-kenalan pentingnya aja. Intinya sih, nenek gue masih telaten bikin-bikin makanan daerah kayak gini


Ketan halus a.k.a uli

Uli yang udah dikemas

So guys! Itu dia kuliner betawi yang gue share. Namanya "Uli". Berhubung saat itu ketannya lagi enggak ada, jadi nggak gue share fotonya. Hihihi. Pokoknya, makanan ini tuh enak banget! Makanan tradisional ini enak banget! Nggak kalah enak kok sama mochi :D







Monday, 4 August 2014

Hidup Prihatin Nggak Harus Jadi Miskin

4 Agustus 2014,





Malaaaam! Sebelum mulai topik, gue mau ngucapin selamat lebaran dulu deh. Yah, emang sih udah telat seminggu buat ngucapin lebaran, tapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali kan? Alright! Malam ini mau ngomongin orang-orang yang mengganggap diri mereka irit ah. Soooo, irit itu maksudnya apa? Menurut gue, irit itu berarti hemat. Nggak menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang sekiranya nggak penting. Hemat dalam kamus gue adalah, tidak membuang uang untuk hal-hal yang tidak berguna tanpa harus "memiskinkan" diri sendiri.

Jujur aja, gue sebel banget kalo ada orang yang terlalu perhitungan sama sesuatu. Contoh: naik taksi harganya 20 ribu, naik bajaj harganya 18 ribu. Ada kok orang yang lebih memilih untuk naik bajaj seharga 18 ribu dibanding naik taksi seharga 20 ribu (ber-ac, nyaman, nggak kena polusi). Padahal, selisihnya cuma 2 ribu kan? Kenapa harus diperhitungkan sekali? Iya sih, memang, tanpa 2 ribu nggak akan jadi 100 ribu. Tapi please, selama anda mampu mengeluarkan uang yang lebih mahal 2 ribu untuk dapat pelayanan yang lebih baik, kenapa tidak? Parahnya lagi, kalau ada yang hitung-hitungan sama amal. Kalau buat amal aja kamu perhitungan, apa Tuhan nggak akan perhitungan juga buat kasih kamu rezeki yang lebih banyak lagi?

Gue pernah kenal seseorang yang selalu berpikir kalau makan di resto atau kafe itu artinya buang-buang duit. Sedikit cerita aja, gue pernah dibilang gini:

"Sar, nggak semua makanan mahal itu enak dan nggak semua makanan murah itu nggak enak."

Iya. Gue tau. Gue tau banget malah. Mungkin menurutnya, gue nggak pernah makan di warteg atau di pinggir jalan. Waktu itu, gue cuma bilang gue lagi ngidam makan Blueberry Cheese Roll-nya Nannys Pavillon. Dia nanya harganya berapaan, dan gue jawablah harganya 50 ribuan. Lalu, menurutnya itu harga yang cukup mahal. Padahal, dia orang berduit. Dia udah kerja. Apa salah kalau seminggu sekali, sebulan sekali, atau setahun sekali lo ngeluarin duit 50 ribu bahkan lebih dari 50 ribu buat makan enak? Gue nggak kebayang gimana saat dia hang out sama teman-temannya. Apa cuma ngeluarin duit parkir aja? Saat teman-temannya pesan makan atau minum di kafe, dia mungkin hanya bisa ngeliatin teman-temannya aja? Oh come on, sesekali kasih reward ke diri sendiri itu nggak salah kok :)

Kalau dibilang orkay, gue nggak bisa dibilang orkay kok. Kalau gue orkay, beuh, udah gue kelilingin dunia ini! Kalau diizinin sama bokap juga.... Hehehe. Yah, tapi, buat sekedar makan, nonton, sama ongkos taksi atau angkot atau ojek aja gue bisa kok. Nyisihin uang buat hang out seminggu sekali aja gue bisa kok. Uang jajan gue yang masih seorang mahasiswa aja cukup buat dana hang out seminggu sekali. Terus, orang-orang berduit yang sudah kerja dan sangat perhitungan itu kenapa nggak bisa nyisihin uang buat sekedar ongkos bensin, makan, dan nonton? Apalagi kalau orang itu adalah seorang cowok. Hellow! Apa pacarnya nggak akan protes? Kalau alasannya buat nabung bikin rumah masa depan, nabung buat nikah, dan hal-hal lain buat masa depan bareng pacar sih oke lah. Tapi, cewek juga butuh dimengerti. Yah, sesekali kasih surprise atau sekedar dinner sederhana di salah satu resto yang range harganya 50.000 - 500.000 kan nggak salah juga? Ya kan? Eh...... Sarahnya jadi curcol deh. Hehehe.

Yowes lah, pada dasarnya tergantung pendapat dan prinsip masing-masing orang sih. Mungkin dengan sangat mengirit uang adalah cara untuk berhemat bagi beberapa orang, yaudah. Itu pendapat mereka. Itu prinsip mereka. Bagaimanapun, prinsip dan pendapat seseorang itu harus dihargai. Tapi, kalau gue pribadi, gue bukan tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uang alias boros kok. Gue juga bukan tipe orang yang suka "mengiritkan" diri sendiri. Rezeki ada yang atur kok. Kalau cuma sekedar makan di resto, hang out di kafe, nonton, atau ongkos bensin buat pergi mall aja, namanya bukan boros kan? Hihihi.

Itu pendapat gue mengenai hemat-hematan. No offense ya. Selamat malam! ;)







Sunday, 16 March 2014

Keranjingan "Marry Your Daughter"

16 Maret 2014,










Beberapa hari lalu gue sempat iseng search lagu-lagu asik di Youtube. Gue search lagu-lagu Brian McKnight, Auburn, dll. Hingga akhirnya, gue menemukan lagu di atas.

Gue sering dengar judul itu, yang katanya lagunnya romantis. Jujur aja, gue belum pernah dengar lagu itu sebelumnya. Gue hanya sering dengar judul lagu itu dari salah satu teman cewek gue. Waktu itu, dia rekomendasiin lagu ini buat gue. Dia bilang,
"Lo harus dengar Marry Your Daughter, pasti meleleh!"
Nah, setelah gue dengar lagu itu di Youtube, gue baru bisa meng-iya-kan kata-kata teman gue. Gue benar-benar langsung meleleh! Musiknya bisa kebayang terus di kepala gue. Liriknya, apalagi. Pokoknya, gue langsung jatuh cinta sama lagu ini.

Setelah dengerin lagu itu, gue jadi nyanyiin lagu itu terus. Nggak dikampus, di rumah, di busway, dimanapun, lagu itu terngiang di otak gue. Dan gue, otomatis nyanyiin lagu itu terus. Duh, gue keranjingan Marry Your Daughter!


Setiap gue dengar lagu itu, gue langsung kebayang suatu saat nanti. Ya, suatu saat nanti ada pemuda yang minta izin ke bokap gue untuk nikahin gue. Lalu, dia tersenyum saat dia jemput gue buat sampai ke pelaminan. Apalagi, kalau di hari spesial tersebut nanti, dia nyanyiin lagu ini buat gue daan bokap gue, serta lagu Tulus - Teman Hidup. Haduh. Nggak kebayang...

Well, iya sih masih terlalu dini buat mikirin masalah kayak gini. Yah, gue cuma berkhayal aja dengan lagu tersebut. Lagipula, untuk waktu dekat ini, khayalan gue nggak mungkin jadi kenyataan. Pacar aja belum punya! Hahaha (kode). Tapi, someday akan ada laki-laki yang dengan tulus minta izin ke orang tua gue. Izin apa? Nggak tahu... Hehehehe






Wednesday, 12 March 2014

Masa-Masa Kuliah

12 Maret 2014,






2014. Sudah memasuki semester 6. Ya ampun, waktu berjalan cepeeeeet banget! Tahun depan, insha Allah, udah bisa lulus dan ninggalin kampus. Amin amin...

Nggak terasa, udah 3 tahun gue kuliah. Selama 3 tahun itu, banyak banget kenangan yang lucu-lucu. Percintaan, persahabatan, per-akademis-an... Semuanya masuk ke dalam 3 tahun itu. Senang, sedih, lucu, bahagia, menangis... semuanya ada! Kalau boleh jujur, gue belum mau pisah sama kampus ini

Gue nggak mau bahas topik apapun atau siapapun malam ini. Gue cuma mau flashback ke masa-masa 3 tahun itu. Rasanya... mau ngulang? Kepingin sih, tapi, yang namanya manusia, harus bisa move on kan? Bukan cuma pacar aja yang harus move on! Iya, nggak? Oke, kita mulai dari awal FEP.

Gue FEP kebagian di kelompok BBN. BBN 08 tepatnya. Gue dapat name tag warna hijau muda, buat jurusan Marketing Communication. Nah, disitu, gue ketemu teman baru yang sampai sekarang masih dekeeeet banget. Namanya Natasya. Dia cewek pertama yang kenalan sama gue di Binus. Gue duduk di sampingnya, terus langsung kenalan deh. Sampai sekarang, kita masih suka bareng-bareng. Bahagianya...Kedua, ada Yesi. Cewek yang satu ini persis kayak cowok. Padahal waktu kenalan sama dia, beh, sok-sok imut gitu. Eh, ternyata dugaan gue salah. Dia kayak cowok! Rambutnya panjang sih, kalau dandan juga cantik (jangan ge-er, Yes!), tapi kalau udah yang namanya bawa motor, berantem, atau hal-hal semacam itu... cowoknya keluar men! Gue kenal dia juga dari FEP. Orang kedua di binus yang pertama kali kenalan dan dekat sama gue. Sampai sekarang, kita masih lumayan dekat. Sayang aja udah pisah kelas. Hiks...

Ini konyol. Hari pertama masuk di semester 1, gue telat karena nyasar! Gue sama teman SMA gue yang kuliah di Binus, sok-sokan berangkat naik busway dari Lebak Bulus. Alhasil, nyasar pas di halte busway Kelapa Dua Sasak. Kita lanjut naik angkot. Tapi bukannya ke arah Binus, malah ke arah tol Kebon Jeruk. Hahaha! Konyol! Akhirnya, lanjut naik angkot M11 dari belokan kebon jeruk itu tuh...

Oh ya, semester 1, temen se-geng-an gue itu... Natasya, Nindy, Yesi, Myas, Pingkan, Rifka. Banyak ya? Ya gitu deh... tapi sekarang udah pada pisah kelas. Susah ketemu! Yang masih awet sering ketemu sampai sekarang, paling cuma Natasya, Nindy, dan Yesi. Myas juga lumayan, tapi dia jarang masuk. Emang dasar si tante itu

Mmm, semester 1, gue juga pernah sempat suka sama cowok jambul beralis tebal yang selama kurang lebih dua minggu jagain stan di belakang redlite. Mata gue nemuin dia saat gue lagi nungguin Yesi di redlite buat bikin tugas politik. Waktu itu gue sendirian dan cuma curi-curi pandang sama dia aja. Waktu itu gue nggak tau namanya siapa, semester ebrapa, jurusan apa, dan stan apa yang dia jaga, gue nggak tau. Yang jelas, selama 2 mingguan itu, gue rajin lewat belakang redlite. Yah, cuma mau lihat dia. Gue pernah satu kali yang benar-benar meleleh saat lewat di depan dia. Waktu itu, gue nemenin teman gue sholat. Nah, gue sengaja lewat belakang redlite karena gue mau kasih tau si RIfka mana cowok yang menarik perhatian gue. Gue... pura-pura nggak liat dia saat itu. Gue malu. Gue takut.Terus si Rifka bilang pas di mushola,
"Eh, tadi dia langsung balik badan gitu pas liat lo."
Wuaduh, itu maksudnya apa? Gue mikirnya sih, dia risih sama gue. Habisnya, kalau bukan risih, kenapa dia balik badan? Nggak tahu deh. Tapi, pas gue balik dari mushola mau ke kelas, gue lihat dia lagi nyanyi pakai gitar. Dia nggak lihat gue, tapi gue ngerasa mau meleleh ngeliatnya. Melting booookkk! Dalam hati sih, gue mau dinyanyiin sama dia. Hahaha!

Semester 2:
Gue sekelas sama Yesi dan MyasNggak ada yang spesial dari semester ini. Yang jelas, gue lebih sering sendiri karena mereka jarang masuk. IP gue lumayan naik, tapi nggak bagus-bagus banget. Oh ya, nilai UAS bahasa Inggris gue di semester ini 100. Padahal, UTS-nya juelek banget. Say thanks deh, buat Sir Billy. Oh ya, di akhir semester 2, gue ketemu satu cowok jambul. Iya, disana gue mulai ketemu si jambul bin nyebelin yang sering gue ceritain. Jadi, ceritanya gini....

Gue baru selesai pinjem text book, buat mata kuliah Bahasa Indonesia. Nah, pas mau ambil tas, dia antri di depan gue. Terus, dengan pedenya, dia ngobrol ke gue, "Perpus rame banget hari ini". Gue yang ngerasa nggak ada orang lain di belakang gue, langsung nengok ke belakang dong. Eh, nggak ada orang di belakang gue. Terus, gue tanya, tapi cuma pakai komunikasi non verbal. Gue nunjuk diri gue sendiri. Dia bilang lagi,
"Iya. Gue ngomong sama lo kok."
Terus, akhirnya kita ngobrol bentar. Pas mau ambil tas, dia sok-sokan mau ambil tas gue, tapi gue udah keburu ambil duluan. Hahaha! Pas mau keluar, dia to the point bilang,
"Invite pin BB lo dong." Sambil nyodorin HP-nya, tentunya.
Ya udah, gue invite. Nah, sebenarnya kita nggak pernah kenalan, cuma tahu dari Display Name masing-masing aja. Hehe... Pas libur beberapa bulan itu, kita dekat dan dia baru nyatain perasaannya. :) 

Semester 3:
Gue masih deket sama si jambul bin nyebelin. Tambah deket malahNah, disini gue sekelas sama pasangan cucok. Sama geng obor juga. Ya, maksudnya, gue sekelas sama Gregy dan Ersa. Gregy itu teman SMA gue, dan Ersa itu pacarnya. Mereka benar-benar pasangan terlucu yang pernah gue temuin! Gue suka nebeng mereka sampai PIM. Oh ya, gue mainnya sama Gregy, Ersa, Andini, Nabila, dan Onya. Pernah, gue dan pasangan unyu beserta Andini pergi ke puncak. Jalan-jalan aja setelah kelas pengganti. Konyolnya, si Gregy salah ngasih duit pas di tol. Terus, langsung jalan. Ya diteriakin lah sama mas-mas tol. Malunya...

Oh ya, semester tiga ini gue masih sering ketemu sama si jambul. Kalau pulang malem, dia suka nemenin gue. Gue jadi inget, dia pernah ajak gue dinner. Gue sih iya-iya aja. Seneng-seneng aja. Eh, nyatanya, gue diajak ke kondangan temennya. Itu ngeselin sih, tapi lucu juga. Parahnya, pas pulang, dia lupa isi bensin. Gue udah ingetin buat isi bensin, tapi dia bilang santai aja. Jadi yaudah. Gue pun nyantai aja. Pas udah deket Kemang, beh, kena macet! Mati nggak tuh? Udah mobilnya gede, krisis bensin, kejebak macet, pakai high heels. Nggak kebayang.... Untungnya sih nemu pom bensin. Langsung belok deh tuh. Fiuh... Nggak jadi dorong mobil pakai high heels.

Di semester 3 akhir, gue sempat pisah sama dia. Pisah baik-baik kok. Alasannya? Rahasia rumah tangga deh. HeheGue ingat, kita ngomongin pisah-pisah gitu di gedung parkir binus. Dia menitikan air mata waktu gue suruh dia hapus nomer gue. Yah, toh, akhirnya balik lagi balik lagi. Emang susah kalau sama dia. Kayak magnet

Semester 4:
Gue nggak sekelas sama best couple, tapi gue sekelas lagi sama Yesi dan Nindy. Temen gue, ya mereka itu. Oh ya, disini gue ketemu sama Calvina. Ini cewek setia banget nemenin gue. Kalau gue nunggu dijemput, dia suka nemenin. Doi suka baca komik. Kalau ke Gramedia, yang dilihat pertama ya komik. Nyari 8 komik cuma ngabisin waktu semenit. Bayangin! Dia pacar kedua gue setelah si jambulHahahaha!

Oh ya, di semester ini, pacar gue udah mulai sibuk (ciyeee, pacar!). Gue jadi sering berantem gara-gara dia sibuk. Tapi toh, akhirnya gue paham kalau dia jarang bales sms karena hal yang positif. Karena urusan kuliah juga. Awalnya memang susah. Tapi kalau dipikir, gue nggak sial-sial banget kok jadi ceweknya. Dia masih sempat ngucapin selamat pagi dan selamat malam. Kita masih sempat berbagi cerita di malam hari. Yah, meskipun cuma di malam hari, gue tetap senang. Dia anak bungsu, tapi dia lebih dewasa dari gue. Dia yang bikin gue sedikit berubah. Dia hebat. Nah, gue berubah karena gue pikir gue harus berubah. Cowok gue aja pinter, masa gue bodoh? Jadi, gue berusaha untuk menyeimbangkan kedudukan gue dengan dia. Waktu failed di matkul Entre, dia yang nasihatin gue buat jadiin itu pelajaran untuk tugas-tugas selanjutnya. Jangan terpuruk sama satu kegagalan aja. Dia suka ngasih es krim kalau nilai gue bagus, buat reward aja. Tapi, meskipun cuma es krim, bukan berarti dia nggak pernah kasih benda yang lebih ke gue. Ada kalanya, di tanggal tertentu aja. Dia juga selalu kasih obat kalau gue bilang gue sakit. Dia yang kasih jaket dan helmnya buat gue, kalau lagi hujan. Dia... hampir mendekati sempurna deh. He's the best thing I've ever had.

Di akhir semester 4, kita pisah. Beneran pisah. Nggak balik-balikan lagi. Cuma... masih deket aja. Hehe.

Semester 5:
IP gue mulai membaik. Calvina semakin setia menemani gue. Hahaha! Gue semakin cocok berteman dengan Calvina. Nyaman aja buat dijadiin teman. Dia mau denger keluh kesah gue. Dia selalu ada disaat gue senang, sedih, galau, bosen... pokoknya dia baik banget buat dijadiin teman! Gue juga suka numpang di kostannya kalau dijemput malem. Hehe. Oh ya, semester 5 ini gue masih dekat sama jambul. Tapi nggak balikan. Yah, pikir sendiri aja deh tentang statusnya. Tapi, di semester ini juga, hubungan kita diperjelas. Ada tuh ceritanya, gue tulis di judul, "Alhamdulillah Jelas".

Semester 6:
Sedang gue jalani. Mudah-mudahan berjalan mulus. Semoga betah dengan kelas baru. Dan, semoga lebih baik dari semester sebelumnyaAmin..



Tuesday, 25 February 2014

"A" Score For Mandarin Language!

25 February 2014,




"Udah liat kelas belum?" tanya Calvina (temen kelasan gue yang setiaaaaa banget).

Wah, denger pertanyaan itu, gue langsung cepet-cepet buka binusmaya. Gue dapet kelas PIO, SJO, dan SIO. Pas banget saat gue ngecek kelas, di group 05PIO juga lagi rame ngomongin kelas. Tapi..... Waduh, kok nggak ada yang sama kayak kelas gue? Jangan-jangan gue mental sendiri nih? Hm... Sempet panik juga sih. Lalu, nggak lama gue ngecek twitter. Eh, ternyata, temen-temen gue lagi pada ngomongin kelas. Masuk tab mention gue pula. Setelah gue scroll kebawah... kebawah... kebawah... Ah! Akhirnya gue ada temen! Dan setelah tadi pagi gue masuk kelas di semester 6, ternyata banyak yang gue kenal. Alhamdu? Lillah....

Nah hari ini, si Calvina nge-line gue lagi, bilang "Nilai udah keluar loh". Wih, gue langsung ngecek bimay lagi. Kalau mau tahu, deg-degannya mau liat nilai itu sama kayak deg-degannya pas mau nembak orang. Tapi... boong deng! Gue aja nggak tau gimana rasanya nembak orang. Hahahaha! Alhamdulillah! Gue mau teriak saking senangnya saat gue buka nilai. Sebenarnya belum semua nilai keluar, tapi ada satu nilai yang menarik perhatian gue dan bikin gue excited banget! Mau tau nilai apa? Nilai BAHASA CHINA!! Dan mau tau nilai gue berapa? Nilau UAS gue..... 95! Dan nilai akhir gue.... 85! Yap gue dapat nilai A!! itu SENENGNYA BUKAN MAIN! Masalahnya, UTS kemarin gue dapet 64, dapat D. Makanya, gue mati-matian belajar bahasa China dari kisi-kisi yang dikasih bapaknya. Yaaa waktu itu sih gue ngarepnya, yang penting buat lulus cukup. Nggak mesti dapet B atau A, karena emang itu matkul susah banget! Eh, ternyata, hasilnya lebih dari apa yang gue bayangin! Gue seneng banget! Oh ya, sekalian say thanks ah ke Calvina dan Yessy, teman kampus gue yang suka bantuin gue ngafalin bahasa China. Hahaha! 

Mau tau gimana ceritanya gue bisa dapat nilai 95 di UAS? Nih...


  1. Gue tulis semua hanzi, pingin, dan artinya di satu kertas. Yah, meskipun gue tau di buku ada tulisan-tulisan itu, tapi gue tetap aja nggak bisa ngehafal kalau cuma baca doang. Kalau mau hafal, gue selalu tulis tulisan itu berkali-kali. Sebelumnya, gue nggak pernah nulis hanzi. Males. Ribet. Tapi, karena gue sadar gue ahrus hafalin itu di UAS, jadi gue harus tulis itu tulisan. Selama 2 hari. Iya. 2 hari gue nulis hanzi, pingin, dan artinya. Oh ya, hanzi itu tulisan kanji-nya bahasa China. Kalau pingin, tulisan bahasa China yang berupa abjad/huruf.
  2. Nah, setelah gue hafalin itu kertas yang udah gue tulis-tulis. Nyatanya, belum sepenuhnya hafal juga. Padahal waktunya tinggal sehari lagi buat belajar. Haduh... Stress. Gue bingung. Gue sempat mikir buat gunting-gunting buku Bahasa China gue, tapi.. sayang. Sampai akhirnya gue teringat sesuatu. Tulisan-tulisan ini ada di slide binusmaya. Jadi, gue copy tulisan-tulisan itu ke Ms. Word dan gue print out. Setelah gue print, gue gunting-gunting dan gue hafalin secara acak. Oh ya, kenapa harus digunting? Karena kalau nggak digunting, gue nggak akan hafal spesifik tulisannya itu kayak apa. Gue pasti kehafal karena tersusun aja, kalau nggak digunting. Jadi, gue gunting supaya bisa dihafal secara acak. Lalu, gue hafalin deh. Bayangin, gue cuma hafalin semaleman dan itu berhasil. Gue hafalin sebelum tidur, setelah bangun tidur, dan sebelum masuk ruang ujian. 
Ini dia usaha gue buat hafalin Bahasa China 2. Katanya, no pic = hoax kan?



Di sebelah atas foto adalah tulisah hanzi yang masih utuh. Masih hangat baru di print. Dan yang bawah foto adalah tulisan hanzi yang udah gue gunting-gunting. Fungsinya, supaya gue bisa menghafal acak. Foto ini juga gue upload di instagram kok.

Percaya atau enggak, gue jadi suka Bahasa China setelah belajar dengan cara seperti ini. Gue memang sempat bahkan sering pusing gara-gara matkul ini. Tapi setelah gue tau bagaimana cara belajar yang tepat untuk gue, gue jadi suka. Rasanya, ternyata nggak sesulit itu. Asal ada niat dan usaha aja. 

Gue selalu ingat kata si jambul bin nyebelin. Dia sih bilang, itu juga kata mamahnya. Dia bilang,
"Kamu tenang aja. Allah selalu kasih jalan untuk orang-orang yang mau berusaha."
Nah, iya! Emang benar! Disaat gue hampir hopeless menghafal semua tulisan itu, Allah kasih jalan buat gue. Dengan cara... Ada slide bimay. Gue masih bisa memanfaatkan slide itu buat bahan belajar yang kemudian gue print out dan gue gunting-gunting sendiri. Dan percaya atau tidak, lo akan ngerasa lebih senang saat lo dapat hasil dari usaha lo sendiri. Bukan dari berbuat curang. Beneran deh. Lo bakalan seneng banget! Gue aja sampai melukin boneka-boneka gue. Malah besok gue mau meluk Calvina dan Yessy. Hahahaha!

Oh ya, terakhir, gue cuma mau bilang. Kalau lo ngerasa nggak punya semangat belajar, coba deh. Mungkin lo belum tau gimana cara belajar yang tepat untuk lo. Karena, saat lo tahu bagaimana cara belajar yang tepat untuk lo, lo akan terdorong untuk melakukan hal itu lagi. Apalagi, setelah lo lihat hasilnya yang memuaskan. 

Well, lagi-lagi, katanya kalau nggak ada pic, artinya hoax kan? Nih gue kasih lihat real nilai Bahasa China gue. 


Yang 88 itu nilai tugas mandiri. Nah, 64 itu UTS yang gue bilang dapat D. Dan 95 adalah nilai UAS.

So, gue cuma mau berbagi aja. Have a nice day! :)