Monday, 4 August 2014

Hidup Prihatin Nggak Harus Jadi Miskin

4 Agustus 2014,





Malaaaam! Sebelum mulai topik, gue mau ngucapin selamat lebaran dulu deh. Yah, emang sih udah telat seminggu buat ngucapin lebaran, tapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali kan? Alright! Malam ini mau ngomongin orang-orang yang mengganggap diri mereka irit ah. Soooo, irit itu maksudnya apa? Menurut gue, irit itu berarti hemat. Nggak menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang sekiranya nggak penting. Hemat dalam kamus gue adalah, tidak membuang uang untuk hal-hal yang tidak berguna tanpa harus "memiskinkan" diri sendiri.

Jujur aja, gue sebel banget kalo ada orang yang terlalu perhitungan sama sesuatu. Contoh: naik taksi harganya 20 ribu, naik bajaj harganya 18 ribu. Ada kok orang yang lebih memilih untuk naik bajaj seharga 18 ribu dibanding naik taksi seharga 20 ribu (ber-ac, nyaman, nggak kena polusi). Padahal, selisihnya cuma 2 ribu kan? Kenapa harus diperhitungkan sekali? Iya sih, memang, tanpa 2 ribu nggak akan jadi 100 ribu. Tapi please, selama anda mampu mengeluarkan uang yang lebih mahal 2 ribu untuk dapat pelayanan yang lebih baik, kenapa tidak? Parahnya lagi, kalau ada yang hitung-hitungan sama amal. Kalau buat amal aja kamu perhitungan, apa Tuhan nggak akan perhitungan juga buat kasih kamu rezeki yang lebih banyak lagi?

Gue pernah kenal seseorang yang selalu berpikir kalau makan di resto atau kafe itu artinya buang-buang duit. Sedikit cerita aja, gue pernah dibilang gini:

"Sar, nggak semua makanan mahal itu enak dan nggak semua makanan murah itu nggak enak."

Iya. Gue tau. Gue tau banget malah. Mungkin menurutnya, gue nggak pernah makan di warteg atau di pinggir jalan. Waktu itu, gue cuma bilang gue lagi ngidam makan Blueberry Cheese Roll-nya Nannys Pavillon. Dia nanya harganya berapaan, dan gue jawablah harganya 50 ribuan. Lalu, menurutnya itu harga yang cukup mahal. Padahal, dia orang berduit. Dia udah kerja. Apa salah kalau seminggu sekali, sebulan sekali, atau setahun sekali lo ngeluarin duit 50 ribu bahkan lebih dari 50 ribu buat makan enak? Gue nggak kebayang gimana saat dia hang out sama teman-temannya. Apa cuma ngeluarin duit parkir aja? Saat teman-temannya pesan makan atau minum di kafe, dia mungkin hanya bisa ngeliatin teman-temannya aja? Oh come on, sesekali kasih reward ke diri sendiri itu nggak salah kok :)

Kalau dibilang orkay, gue nggak bisa dibilang orkay kok. Kalau gue orkay, beuh, udah gue kelilingin dunia ini! Kalau diizinin sama bokap juga.... Hehehe. Yah, tapi, buat sekedar makan, nonton, sama ongkos taksi atau angkot atau ojek aja gue bisa kok. Nyisihin uang buat hang out seminggu sekali aja gue bisa kok. Uang jajan gue yang masih seorang mahasiswa aja cukup buat dana hang out seminggu sekali. Terus, orang-orang berduit yang sudah kerja dan sangat perhitungan itu kenapa nggak bisa nyisihin uang buat sekedar ongkos bensin, makan, dan nonton? Apalagi kalau orang itu adalah seorang cowok. Hellow! Apa pacarnya nggak akan protes? Kalau alasannya buat nabung bikin rumah masa depan, nabung buat nikah, dan hal-hal lain buat masa depan bareng pacar sih oke lah. Tapi, cewek juga butuh dimengerti. Yah, sesekali kasih surprise atau sekedar dinner sederhana di salah satu resto yang range harganya 50.000 - 500.000 kan nggak salah juga? Ya kan? Eh...... Sarahnya jadi curcol deh. Hehehe.

Yowes lah, pada dasarnya tergantung pendapat dan prinsip masing-masing orang sih. Mungkin dengan sangat mengirit uang adalah cara untuk berhemat bagi beberapa orang, yaudah. Itu pendapat mereka. Itu prinsip mereka. Bagaimanapun, prinsip dan pendapat seseorang itu harus dihargai. Tapi, kalau gue pribadi, gue bukan tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uang alias boros kok. Gue juga bukan tipe orang yang suka "mengiritkan" diri sendiri. Rezeki ada yang atur kok. Kalau cuma sekedar makan di resto, hang out di kafe, nonton, atau ongkos bensin buat pergi mall aja, namanya bukan boros kan? Hihihi.

Itu pendapat gue mengenai hemat-hematan. No offense ya. Selamat malam! ;)







No comments:

Post a Comment