Tuesday, 25 February 2014

"A" Score For Mandarin Language!

25 February 2014,




"Udah liat kelas belum?" tanya Calvina (temen kelasan gue yang setiaaaaa banget).

Wah, denger pertanyaan itu, gue langsung cepet-cepet buka binusmaya. Gue dapet kelas PIO, SJO, dan SIO. Pas banget saat gue ngecek kelas, di group 05PIO juga lagi rame ngomongin kelas. Tapi..... Waduh, kok nggak ada yang sama kayak kelas gue? Jangan-jangan gue mental sendiri nih? Hm... Sempet panik juga sih. Lalu, nggak lama gue ngecek twitter. Eh, ternyata, temen-temen gue lagi pada ngomongin kelas. Masuk tab mention gue pula. Setelah gue scroll kebawah... kebawah... kebawah... Ah! Akhirnya gue ada temen! Dan setelah tadi pagi gue masuk kelas di semester 6, ternyata banyak yang gue kenal. Alhamdu? Lillah....

Nah hari ini, si Calvina nge-line gue lagi, bilang "Nilai udah keluar loh". Wih, gue langsung ngecek bimay lagi. Kalau mau tahu, deg-degannya mau liat nilai itu sama kayak deg-degannya pas mau nembak orang. Tapi... boong deng! Gue aja nggak tau gimana rasanya nembak orang. Hahahaha! Alhamdulillah! Gue mau teriak saking senangnya saat gue buka nilai. Sebenarnya belum semua nilai keluar, tapi ada satu nilai yang menarik perhatian gue dan bikin gue excited banget! Mau tau nilai apa? Nilai BAHASA CHINA!! Dan mau tau nilai gue berapa? Nilau UAS gue..... 95! Dan nilai akhir gue.... 85! Yap gue dapat nilai A!! itu SENENGNYA BUKAN MAIN! Masalahnya, UTS kemarin gue dapet 64, dapat D. Makanya, gue mati-matian belajar bahasa China dari kisi-kisi yang dikasih bapaknya. Yaaa waktu itu sih gue ngarepnya, yang penting buat lulus cukup. Nggak mesti dapet B atau A, karena emang itu matkul susah banget! Eh, ternyata, hasilnya lebih dari apa yang gue bayangin! Gue seneng banget! Oh ya, sekalian say thanks ah ke Calvina dan Yessy, teman kampus gue yang suka bantuin gue ngafalin bahasa China. Hahaha! 

Mau tau gimana ceritanya gue bisa dapat nilai 95 di UAS? Nih...


  1. Gue tulis semua hanzi, pingin, dan artinya di satu kertas. Yah, meskipun gue tau di buku ada tulisan-tulisan itu, tapi gue tetap aja nggak bisa ngehafal kalau cuma baca doang. Kalau mau hafal, gue selalu tulis tulisan itu berkali-kali. Sebelumnya, gue nggak pernah nulis hanzi. Males. Ribet. Tapi, karena gue sadar gue ahrus hafalin itu di UAS, jadi gue harus tulis itu tulisan. Selama 2 hari. Iya. 2 hari gue nulis hanzi, pingin, dan artinya. Oh ya, hanzi itu tulisan kanji-nya bahasa China. Kalau pingin, tulisan bahasa China yang berupa abjad/huruf.
  2. Nah, setelah gue hafalin itu kertas yang udah gue tulis-tulis. Nyatanya, belum sepenuhnya hafal juga. Padahal waktunya tinggal sehari lagi buat belajar. Haduh... Stress. Gue bingung. Gue sempat mikir buat gunting-gunting buku Bahasa China gue, tapi.. sayang. Sampai akhirnya gue teringat sesuatu. Tulisan-tulisan ini ada di slide binusmaya. Jadi, gue copy tulisan-tulisan itu ke Ms. Word dan gue print out. Setelah gue print, gue gunting-gunting dan gue hafalin secara acak. Oh ya, kenapa harus digunting? Karena kalau nggak digunting, gue nggak akan hafal spesifik tulisannya itu kayak apa. Gue pasti kehafal karena tersusun aja, kalau nggak digunting. Jadi, gue gunting supaya bisa dihafal secara acak. Lalu, gue hafalin deh. Bayangin, gue cuma hafalin semaleman dan itu berhasil. Gue hafalin sebelum tidur, setelah bangun tidur, dan sebelum masuk ruang ujian. 
Ini dia usaha gue buat hafalin Bahasa China 2. Katanya, no pic = hoax kan?



Di sebelah atas foto adalah tulisah hanzi yang masih utuh. Masih hangat baru di print. Dan yang bawah foto adalah tulisan hanzi yang udah gue gunting-gunting. Fungsinya, supaya gue bisa menghafal acak. Foto ini juga gue upload di instagram kok.

Percaya atau enggak, gue jadi suka Bahasa China setelah belajar dengan cara seperti ini. Gue memang sempat bahkan sering pusing gara-gara matkul ini. Tapi setelah gue tau bagaimana cara belajar yang tepat untuk gue, gue jadi suka. Rasanya, ternyata nggak sesulit itu. Asal ada niat dan usaha aja. 

Gue selalu ingat kata si jambul bin nyebelin. Dia sih bilang, itu juga kata mamahnya. Dia bilang,
"Kamu tenang aja. Allah selalu kasih jalan untuk orang-orang yang mau berusaha."
Nah, iya! Emang benar! Disaat gue hampir hopeless menghafal semua tulisan itu, Allah kasih jalan buat gue. Dengan cara... Ada slide bimay. Gue masih bisa memanfaatkan slide itu buat bahan belajar yang kemudian gue print out dan gue gunting-gunting sendiri. Dan percaya atau tidak, lo akan ngerasa lebih senang saat lo dapat hasil dari usaha lo sendiri. Bukan dari berbuat curang. Beneran deh. Lo bakalan seneng banget! Gue aja sampai melukin boneka-boneka gue. Malah besok gue mau meluk Calvina dan Yessy. Hahahaha!

Oh ya, terakhir, gue cuma mau bilang. Kalau lo ngerasa nggak punya semangat belajar, coba deh. Mungkin lo belum tau gimana cara belajar yang tepat untuk lo. Karena, saat lo tahu bagaimana cara belajar yang tepat untuk lo, lo akan terdorong untuk melakukan hal itu lagi. Apalagi, setelah lo lihat hasilnya yang memuaskan. 

Well, lagi-lagi, katanya kalau nggak ada pic, artinya hoax kan? Nih gue kasih lihat real nilai Bahasa China gue. 


Yang 88 itu nilai tugas mandiri. Nah, 64 itu UTS yang gue bilang dapat D. Dan 95 adalah nilai UAS.

So, gue cuma mau berbagi aja. Have a nice day! :)




Thursday, 6 February 2014

A Day For "Dinda Speaking"

6 Februari 2014,




Waktu pertama kali dapat tugas bikin talkshow, waduh... Nggak kebayang gimana susahnya. Apalagi, kita hanya dikasih waktu 2 minggu untuk selesain project ini. Bayangin, belum cari tempat, narasumber, dll? Whoaaa! Tapi akhirnya, ternyata kakak asistennya baik. Berhubung 2 minggu kedepan kita nggak ada jadwal alias libur, jadi project ini diundur 1 minggu lagi. Jadi, kita dikasih waktu 3 minggu buat selesain project talkshow ini. Dan jujur, susah banget bikinnya.
Well, akhirnya kita bikin hari Rabu, tanggal 5 Februari kemarin. Kita kumpul di Mangia, Panglima Polim. Tepatnya di smoking room, lantai 2-nya. Gue sampai disana sekitar  jam 12.30-an, dan masih ada beberapa anggota kelompok yang belum datang. Jadi, kita tunggu mereka dulu.
Oh ya, Nama talkshow-nya "Dinda Speaking" karena yang bawain adalah teman gue bernama Adinda. Pertama, kendala kita ada di narasumber. Yah, berhubung kemarin cuacanya kurang mendukung, jadi narasumber pun nggak bisa datang. Akhirnya, kita coba cari narasumber lain dan dapat narasumber yang agak berbeda dari proposal yang di confirm. Nah, setelah sekian lama, ternyata salah satu teman gue yang merupakan anggota dari komunitas yang mau jadi narasumber itu tiba-tiba bilang bahwa dia sudah mendekati Mangia. Jengjeeeeng... Well, kita mutusin buat back to the 1st plan. Kita cancel narasumber kedua itu. Nggak enak hati sih, tapi mau gimana? 
Mangia, Panglima Polim
Akhirnya, kita baru akan mulai shooting sekitar jam 3-an. Nah, kacaunya, saat kita mau mulai shooting, ternyata manager dari Mangia datang dan kita nggak bisa shoot karena belum konfirmasi. Nggak ngerti gimana ceritanya karena saat itu gue lagi jemput temen gue yang nyasar di polim. Tapi, katanya sih intinya seperti itu. Yah memang salah kita juga. Kita memang udah booking tempat, tapi nggak bilang kalau kita mau shoot di tempat itu. Padahal katanya juga, kalau kita bilang mau shoot, kursi-kursi yang nggak terpakai disana bisa dikosongin sementara. Yah, tapi apa boleh buat? Kita udah salah juga. Jadi, kita cari tempat lain.

Next location is Lokananta. Jaraknya nggak terlalu jauh dari Mangia. Disini, tempatnya lumayan sepi dengan dekorasi yang lebih formal. Kebetulan, kita ambil tempat di lantai 2. Jadinya, tempat kita bisa terbilang private. Nggak ada yang ganggu deh. Tapi berhubung disana kurang pencahayaan, jadi kita patungan buat beli 2 lampu tembak. Kenapa harus 2? Karena kalau hanya 1 lampu, hasilnya akan berbayang. Jadi, kita beli 2.
Kita baru benar-benar mulai shooting sekitar jam 5 atau 5.30-an. Agak ngaret karena kita makan dulu. Yah, berhubung lapeeeer banget, jadinya kita makan sambil nunggu yang beli lampu datang. Oh ya, karena pakai lampu, jadi kita kena charge Rp. 100.000. Nggak masalah sih, toh bayarnya juga patungan. Ternyata... Bikin talkshow itu susah. Perlu take berkali-kali buat dapat hasil yang pas dan tepat. Gue sampai pegel pegangin lampu lamaaa banget! 
on camera
Well, akhirnya kita selesai di jam 7 atau 7.30-an. Rasanya, legaaa banget. Akhirnya project yang paling susah di semester ini selesai. Gue nggak kebayang semester depan, pasti akan lebih susah dari ini. Oh ya, kita sempat foto-foto sebelum pulang. Ini dia foto seluruh crew dibalik produksi "Dinda Speaking",

"Dinda Speaking" crew
Nggak lupa, pastinya gue berterima kasih banget pada semua anggota kelompok yang bisa diajak kerja sama. Satu hari yang khusus dihabiskan buat bikin talkshow ini benar-benar suatu pengalaman. Capek, memang, tapi menyenangkan. Apalagi, di detik-detik terakhir pembuatan talkshow ini. Rasanya kayak mau teriak sekencang-kencangnya...

.... AKHIRNYAAAA SELESAI!



Tuesday, 4 February 2014

Alhamdulillah Jelas

4 Februari 2014,






"Pada akhirnya, perpisahan pasti akan datang."


"Bahagia itu pilihan."

Ya, perpisahan memang selalu ada, dan bahagia adalah pilihan. Pilihan bagaimana kita menikmati hidup. Kalau kita bisa menikmati hidup, enjoy sama kehidupan kita, otomatis kita akan dapat bahagia. Benar, kan?

Hari iniSetelah berbulan-bulan menjalani hubungan tanpa status, akhirnya gue dapat jawabannya. Ya, kepastian dari hubungan kita. Hubungan siapa? Ya jelas hubungan gue dengan si jambul bin nyebelin itu. Sebenarnya, kami merencanakan pertemuan ini kemarin, di Pejaten Village. Tapi, berhubung kemarin muacet banget dan terjebak dalam satu busway mogok, akhirnya kemarin gagal ketemu. Eits... Tapi jangan sedih. Akhirnya hari ini kita ketemu di salah satu kafe di Kemang sana. Yah, meskipun cuma sebentar, tapi rasanya legaaaa banget. Kita balikan? Ehm... Kita pisah? Hm...

Awal-awal, nggak tau kenapa rasanya canggung banget. Rasanya kayak dua tahun nggak ketemu! Padahal, baru berapa minggu aja gue mutusin buat nggak saling contact. Nah, setelah dipikir, kok kayaknya nggak enak sih kalau semuanya belum jelas? Banyak pikiran-pikiran aneh. Gue yakin, dia juga pasti ngerasain hal yang sama.


Disana, dia duduk seorang diri. Gue jadi flashback. Saat gue pertama kali ngeliat dia, dia berdiri di depan gue dan gue cuma bisa mandangin dia. Saat itu gue cuma bisa ngomong dalam hati, "Well, he is lovely." Hari ini, batin gue ngomong gitu lagi. Dalam hati lagi. Kata-kata itu terulang lagi. "Yes, he is lovely." 

Percakapan pertama, dimulai dengan kata "hai". Persis kayak orang pertama nge-date. Ya ampun... Padahal udah berapa puluh bahkan mungkin ratusan hari kita habiskan untuk pergi dan jalan bareng? Kenapa disaat ketemu lagi, dalam status dan keadaan yang berbeda, semuanya jadi terasa.... kaku? Gue nggak tau. Sama sekali nggak tau. Mungkin memang udah umumnya kayak gitu.

"How's your exam?" tanya dia setelah beberapa detik saling diam.
Gue cuma bisa angkat bahu, lalu bilang, "Not bad."

Setelah itu, kita ngobrol-ngobrol biasa. BIASA. Biasa banget. Ya tentang keponakannya lah, tentang narsis-narsisan lah, tentang pasta lah, yaaa sampai pada akhirnya, keadaannya mulai mencair. Mulai hangat. Nggak dingin dan kaku kayak pertama ketemu (lagi). Hingga pada suatu ketika, dia to the point nanya, "Kemarin, kenapa mendadak mutusin buat nggak kontak-kontak-an?"

Gue sempat mikir sejenak. Gue bingung sih mau jawab apa, karena sebenarnya gue juga nggak tau apa alasan gue buat mutusin kayak gitu. Gue cuma... cuma kepikiran kalau kita memang harus move on. Mulai jalan sendiri-sendiri. Mulai coba raih apa yang jadi keinginan kita. Jadi, setelah beberapa jenak, akhirnya gue cuma bisa bilang "I don't know". Setelah itu...
Him : "Aku punya salah?" 
Me  : "Nggak kok. Cuma nggak mau aja hidup tanpa status. We have to move on." 
Him : "Jadi mau status?"
Me  :  "Kamu nggak pernah nanyain status."
Dan dia jawab, 
"Aku nggak pernah permasalahin itu, karena aku tau prinsip kamu. Kita udah sempat balikan dan kamu pernah bilangkalau putus ya putus aja, nggak ada balikan. Aku tau kalo sekarang kamu nggak mau ngelanggar prinsip kamu lagi, kan?"
Disitu gue berpikir. Memang benar. Gue yang pernah ngomong gitu, dan gue nggak mungkin ngelanggar kata-kata yang keluar dari mulut gue sendiri. Menurut gue, kata "putus" bermakna sama kayak kata "End" di sebuah cerita. Susah move on? Itu cuma masalah waktu. Waktu buat kita menghilangkan semua kebiasaan itu. Kebiasaan buat jalan bareng, nonton bareng, telfonan sampai malam, dll. Iya, itu semua cuma masalah waktu.

Selanjutnya, kita perjelas semua dugaan-dugaan kita. Saat itu juga. Kita nggak pulang sampai semuanya selesai dan jelas sejelas-jelasnya. Dan ternyata, dugaan gue benar. Bukan cuma gue yang punya pikiran aneh-aneh. Dia pun punya pikiran dan dugaan-dugaan negatif tentang gue. Parahnya, dia berpikir dugaan yang sama kayak yang dulu-dulu. Biasa... tentang itu tuh...


Akhirnya, setelah semuanya jelas, hubungan kita juga jelas. Kita BERTEMAN. Hubungan tanpa status? Udah nggak ada. Sekarang sih, jamannya yang jelas-jelas aja. Jadi, kita mutusin buat jalanin hidup kita masing-masing. Nggak ada lagi tuh yang namanya Cinta Lama Belum Kelar. Sekarang, yang ada cuma berteman. Oh ya, ada satu dialog dari dia yang masih ada di otak gue sampai saat ini.
"Umur kita udah kepala 2. Bukan saatnya lagi kita putus, lalu berubah jadi musuh. Kapanpun kamu butuh aku, butuh suntikan "good luck" atau apapun itu, telfon aja. Selama aku lihat nama kamu di HP aku, pasti aku respon."
Ya ampun.... Seriously. I learn so many things from him. 
Sebelum pulang, dia sempat nawarin tumpangan pulang, tapi gue nolak. Dia sih hampir protes, tapi nggak jadi. Dia justru bilang, "Oh ya, rumahmu kan dekat dari sini, ya? Lupa kalau kamu udah 20 tahun." :))

Oh ya, terakhir sebelum akhirnya kita pamit pulang, dia bilang.... "Nanti kalau wisuda, nggak ada yang nemenin aku deh..."

Whoaaa! That man is awesome! Dia masih bisa senyum, meskipun kesimpulannya kita pisah. Kesimpulannya, sad ending? No... Ini happy ending. Kita berdua sama-sama nggak ngerasa dirugiin. Nggak ngerasa dilukain. Dari awal sudah jelas, bahwa pertemuan ini untuk memperjelas, bukan untuk melukai satu sama lain. 

So now, we're just a friend. :)