Tuesday, 4 February 2014

Alhamdulillah Jelas

4 Februari 2014,






"Pada akhirnya, perpisahan pasti akan datang."


"Bahagia itu pilihan."

Ya, perpisahan memang selalu ada, dan bahagia adalah pilihan. Pilihan bagaimana kita menikmati hidup. Kalau kita bisa menikmati hidup, enjoy sama kehidupan kita, otomatis kita akan dapat bahagia. Benar, kan?

Hari iniSetelah berbulan-bulan menjalani hubungan tanpa status, akhirnya gue dapat jawabannya. Ya, kepastian dari hubungan kita. Hubungan siapa? Ya jelas hubungan gue dengan si jambul bin nyebelin itu. Sebenarnya, kami merencanakan pertemuan ini kemarin, di Pejaten Village. Tapi, berhubung kemarin muacet banget dan terjebak dalam satu busway mogok, akhirnya kemarin gagal ketemu. Eits... Tapi jangan sedih. Akhirnya hari ini kita ketemu di salah satu kafe di Kemang sana. Yah, meskipun cuma sebentar, tapi rasanya legaaaa banget. Kita balikan? Ehm... Kita pisah? Hm...

Awal-awal, nggak tau kenapa rasanya canggung banget. Rasanya kayak dua tahun nggak ketemu! Padahal, baru berapa minggu aja gue mutusin buat nggak saling contact. Nah, setelah dipikir, kok kayaknya nggak enak sih kalau semuanya belum jelas? Banyak pikiran-pikiran aneh. Gue yakin, dia juga pasti ngerasain hal yang sama.


Disana, dia duduk seorang diri. Gue jadi flashback. Saat gue pertama kali ngeliat dia, dia berdiri di depan gue dan gue cuma bisa mandangin dia. Saat itu gue cuma bisa ngomong dalam hati, "Well, he is lovely." Hari ini, batin gue ngomong gitu lagi. Dalam hati lagi. Kata-kata itu terulang lagi. "Yes, he is lovely." 

Percakapan pertama, dimulai dengan kata "hai". Persis kayak orang pertama nge-date. Ya ampun... Padahal udah berapa puluh bahkan mungkin ratusan hari kita habiskan untuk pergi dan jalan bareng? Kenapa disaat ketemu lagi, dalam status dan keadaan yang berbeda, semuanya jadi terasa.... kaku? Gue nggak tau. Sama sekali nggak tau. Mungkin memang udah umumnya kayak gitu.

"How's your exam?" tanya dia setelah beberapa detik saling diam.
Gue cuma bisa angkat bahu, lalu bilang, "Not bad."

Setelah itu, kita ngobrol-ngobrol biasa. BIASA. Biasa banget. Ya tentang keponakannya lah, tentang narsis-narsisan lah, tentang pasta lah, yaaa sampai pada akhirnya, keadaannya mulai mencair. Mulai hangat. Nggak dingin dan kaku kayak pertama ketemu (lagi). Hingga pada suatu ketika, dia to the point nanya, "Kemarin, kenapa mendadak mutusin buat nggak kontak-kontak-an?"

Gue sempat mikir sejenak. Gue bingung sih mau jawab apa, karena sebenarnya gue juga nggak tau apa alasan gue buat mutusin kayak gitu. Gue cuma... cuma kepikiran kalau kita memang harus move on. Mulai jalan sendiri-sendiri. Mulai coba raih apa yang jadi keinginan kita. Jadi, setelah beberapa jenak, akhirnya gue cuma bisa bilang "I don't know". Setelah itu...
Him : "Aku punya salah?" 
Me  : "Nggak kok. Cuma nggak mau aja hidup tanpa status. We have to move on." 
Him : "Jadi mau status?"
Me  :  "Kamu nggak pernah nanyain status."
Dan dia jawab, 
"Aku nggak pernah permasalahin itu, karena aku tau prinsip kamu. Kita udah sempat balikan dan kamu pernah bilangkalau putus ya putus aja, nggak ada balikan. Aku tau kalo sekarang kamu nggak mau ngelanggar prinsip kamu lagi, kan?"
Disitu gue berpikir. Memang benar. Gue yang pernah ngomong gitu, dan gue nggak mungkin ngelanggar kata-kata yang keluar dari mulut gue sendiri. Menurut gue, kata "putus" bermakna sama kayak kata "End" di sebuah cerita. Susah move on? Itu cuma masalah waktu. Waktu buat kita menghilangkan semua kebiasaan itu. Kebiasaan buat jalan bareng, nonton bareng, telfonan sampai malam, dll. Iya, itu semua cuma masalah waktu.

Selanjutnya, kita perjelas semua dugaan-dugaan kita. Saat itu juga. Kita nggak pulang sampai semuanya selesai dan jelas sejelas-jelasnya. Dan ternyata, dugaan gue benar. Bukan cuma gue yang punya pikiran aneh-aneh. Dia pun punya pikiran dan dugaan-dugaan negatif tentang gue. Parahnya, dia berpikir dugaan yang sama kayak yang dulu-dulu. Biasa... tentang itu tuh...


Akhirnya, setelah semuanya jelas, hubungan kita juga jelas. Kita BERTEMAN. Hubungan tanpa status? Udah nggak ada. Sekarang sih, jamannya yang jelas-jelas aja. Jadi, kita mutusin buat jalanin hidup kita masing-masing. Nggak ada lagi tuh yang namanya Cinta Lama Belum Kelar. Sekarang, yang ada cuma berteman. Oh ya, ada satu dialog dari dia yang masih ada di otak gue sampai saat ini.
"Umur kita udah kepala 2. Bukan saatnya lagi kita putus, lalu berubah jadi musuh. Kapanpun kamu butuh aku, butuh suntikan "good luck" atau apapun itu, telfon aja. Selama aku lihat nama kamu di HP aku, pasti aku respon."
Ya ampun.... Seriously. I learn so many things from him. 
Sebelum pulang, dia sempat nawarin tumpangan pulang, tapi gue nolak. Dia sih hampir protes, tapi nggak jadi. Dia justru bilang, "Oh ya, rumahmu kan dekat dari sini, ya? Lupa kalau kamu udah 20 tahun." :))

Oh ya, terakhir sebelum akhirnya kita pamit pulang, dia bilang.... "Nanti kalau wisuda, nggak ada yang nemenin aku deh..."

Whoaaa! That man is awesome! Dia masih bisa senyum, meskipun kesimpulannya kita pisah. Kesimpulannya, sad ending? No... Ini happy ending. Kita berdua sama-sama nggak ngerasa dirugiin. Nggak ngerasa dilukain. Dari awal sudah jelas, bahwa pertemuan ini untuk memperjelas, bukan untuk melukai satu sama lain. 

So now, we're just a friend. :)





No comments:

Post a Comment