Wednesday, 20 August 2014

No Social Media, No Life?

20 Agustus 2014,




Syelamat malaaam! Baru banget gue ngomongin tentang org yg nggak main socmed di twitter. Nah, menurut gue ini cukup menarik untuk dijadikan topik menulis. Di era sekarang ini, era teknologi yang semakin canggih ini, gue yakin rata-rata banyak yang punya social media. Ya entah twitter, path, instagram, dll. Nah, tadi gue kepo aja tiba-tiba. Apa masih ada orang yang nggak main socmed? Kalau gue sih pasti jawab ada. Gue kenal sama beberapa orang yang emang nggak main socmed. Salah satunya ya... si jambul.

Gue nggak ngerti juga sih kenapa dia nggak main socmed. Setiap gue tanya dan gue suruh  bikin, dia selalu jawab, "Kalau nanti menurutku penting, pasti aku bikin." Tapi, biar begitu, temannya si jambul ini  banyak loh. Hanya karena dia nggak main socmed, bukan berarti dia nggak punya teman. Dia punya teman banyak! Bahkan mungkin, tema-temannya lebih banyak dari teman-teman gue.

Ada juga teman gue si pecinta kucing, dia nggak main socmed kecuali instagram. Dia nggak main socmed kaya twitter dan path karena menurut dia  nggak penting. Dia hanya butuh instagram buat menyalurkan hobi fotografinya dia.

Untuk beberapa orang, socmed memang nggak penting. Mungkin alasan mereka juga karena nggak mau dunia nyatanya direnggut sama dunia maya. Tapi ada juga kan beberapa orang yang bahkan merasa hidupnya hampa tanpa social media. Yah, itu namanya candu. Well, internet memang candu sih. Nah, gue mau bilang dulu kalau gue nulis ini bukan berarti gue berpihak ke yg anti socmed. Pendapat orang berbeda-beda. Mungkin  yang menurutnya ig itu penting, menurut gue nggak terlalu. Menurut gue twitter itu penting, menurut dia ternyata enggak. Ya itu dia, balik ke diri masing-masing. Balik ke pendapat masing-masing. Balik ke kepentingan masing-masing. Kepentingan orang berbeda-beda kan? Gue pribadi, gue masih butuh socmed. Kalau gue bosan, gue buka buka akun socmed yang gue punya. Yaps, gue masih sangat butuh social media.

Yah, gue cuma pesan aja kalau orang yang anti socmed itu bukan berarti dia anti sosial juga. Pendapat orang bwrbeda-beda, dan kita harus bisa menghargai pendapat orang. Yah, kita juga mestinya lihat dari semua sisi juga. Karena mungkin, mereka punya alasan sendiri kenapa nggak main socmed. Nah, untuk yang punya socmed, jangan terlalu memprioritaskan social media kamu. Kaya yang gue bilang, dunia maya itu candu. Makanya, ada yang namanya autis sama dumay. Yah, boleh lah main di dunia maya, tapi jangan sampai lupa sama dunia nyata. However, dunia nyata yaaaa dunia kamu yang nyata. Dunia nyata adalah dunia yang benar-benar kamu jalani. Jadi, jangan sampai bergantung sama dunia maya.

Sunday, 17 August 2014

Traditional Culinary: Uli

17 Agustus 2014,





Halooowww! Disini ada yang suka kuliner nggak? Gue mau bahas kuliner nih. Kuliner daerah. Kuliner khas betawi! Ya, gue mau memperkenalkan kalian pada kuliner betawi yang bernama "Tape Uli" atau sering juga disebut "Uli" aja. Pernah denger? Kalau pernah, kalian memang betul-betul cinta kuliner daerah. Hahaha! Well, uli itu rasanya enaaaak banget! Makanan ini juga salah satu makanan favorit gue pas lebaran atau acara tertentu. Sekarang sih,udah jarang orang bikin uli. Mungkin karena cara bikinnya cukup ribet, jadi banyak orang yang lebih milih makanan praktis aja. Jadi, uli adalah makanan khas betawi yang terbuat dari beras ketan paris (kalo ga salah) + kelapa + bumbu lain yang dikukus (entah dikukus atau direbus), kemudian ditumbuk menggunakan alat tumbuk. Nah, biasanya uli yang udah ditumbuk itu dibungkus pakai  daun pisang yang udah diolesaminyak. Kenapa harus dioles minyak? Kata nenek gue sih, supaya daunnya bersih dan nggak lengket. Yah... nggak paham juga sih gue. Hehehe... Nih bentuk uli yang belum ditumbuk.



Uli yang belum ditumbuk

daun pisang oles minyak


Biasanya, uli itu dimakan pakai ketan hitam. Kalau dimakan pakai ketan hitam, baru deh namanya lengkap jadi "Tape Uli". Ketan hitamnya itu rasanya manis tapi ada rasa sedikit kayak tape. Biasanya ada tuh di acara-acara tertentu, terutama lebaran. Yah, nggak yakin juga sih kalo jaman sekarang adanya di acara apa, karena seperti yang gue bilang, jaman sekarang orang lebih milih makanan yang praktis-praktis aja. Oh ya, nenek gue masih suka bikin loh sampai sekarang. Yah, tapi nggak bikin banyak juga. Paling-paling cuma buat kenalan-kenalan pentingnya aja. Intinya sih, nenek gue masih telaten bikin-bikin makanan daerah kayak gini


Ketan halus a.k.a uli

Uli yang udah dikemas

So guys! Itu dia kuliner betawi yang gue share. Namanya "Uli". Berhubung saat itu ketannya lagi enggak ada, jadi nggak gue share fotonya. Hihihi. Pokoknya, makanan ini tuh enak banget! Makanan tradisional ini enak banget! Nggak kalah enak kok sama mochi :D







Monday, 4 August 2014

Hidup Prihatin Nggak Harus Jadi Miskin

4 Agustus 2014,





Malaaaam! Sebelum mulai topik, gue mau ngucapin selamat lebaran dulu deh. Yah, emang sih udah telat seminggu buat ngucapin lebaran, tapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali kan? Alright! Malam ini mau ngomongin orang-orang yang mengganggap diri mereka irit ah. Soooo, irit itu maksudnya apa? Menurut gue, irit itu berarti hemat. Nggak menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang sekiranya nggak penting. Hemat dalam kamus gue adalah, tidak membuang uang untuk hal-hal yang tidak berguna tanpa harus "memiskinkan" diri sendiri.

Jujur aja, gue sebel banget kalo ada orang yang terlalu perhitungan sama sesuatu. Contoh: naik taksi harganya 20 ribu, naik bajaj harganya 18 ribu. Ada kok orang yang lebih memilih untuk naik bajaj seharga 18 ribu dibanding naik taksi seharga 20 ribu (ber-ac, nyaman, nggak kena polusi). Padahal, selisihnya cuma 2 ribu kan? Kenapa harus diperhitungkan sekali? Iya sih, memang, tanpa 2 ribu nggak akan jadi 100 ribu. Tapi please, selama anda mampu mengeluarkan uang yang lebih mahal 2 ribu untuk dapat pelayanan yang lebih baik, kenapa tidak? Parahnya lagi, kalau ada yang hitung-hitungan sama amal. Kalau buat amal aja kamu perhitungan, apa Tuhan nggak akan perhitungan juga buat kasih kamu rezeki yang lebih banyak lagi?

Gue pernah kenal seseorang yang selalu berpikir kalau makan di resto atau kafe itu artinya buang-buang duit. Sedikit cerita aja, gue pernah dibilang gini:

"Sar, nggak semua makanan mahal itu enak dan nggak semua makanan murah itu nggak enak."

Iya. Gue tau. Gue tau banget malah. Mungkin menurutnya, gue nggak pernah makan di warteg atau di pinggir jalan. Waktu itu, gue cuma bilang gue lagi ngidam makan Blueberry Cheese Roll-nya Nannys Pavillon. Dia nanya harganya berapaan, dan gue jawablah harganya 50 ribuan. Lalu, menurutnya itu harga yang cukup mahal. Padahal, dia orang berduit. Dia udah kerja. Apa salah kalau seminggu sekali, sebulan sekali, atau setahun sekali lo ngeluarin duit 50 ribu bahkan lebih dari 50 ribu buat makan enak? Gue nggak kebayang gimana saat dia hang out sama teman-temannya. Apa cuma ngeluarin duit parkir aja? Saat teman-temannya pesan makan atau minum di kafe, dia mungkin hanya bisa ngeliatin teman-temannya aja? Oh come on, sesekali kasih reward ke diri sendiri itu nggak salah kok :)

Kalau dibilang orkay, gue nggak bisa dibilang orkay kok. Kalau gue orkay, beuh, udah gue kelilingin dunia ini! Kalau diizinin sama bokap juga.... Hehehe. Yah, tapi, buat sekedar makan, nonton, sama ongkos taksi atau angkot atau ojek aja gue bisa kok. Nyisihin uang buat hang out seminggu sekali aja gue bisa kok. Uang jajan gue yang masih seorang mahasiswa aja cukup buat dana hang out seminggu sekali. Terus, orang-orang berduit yang sudah kerja dan sangat perhitungan itu kenapa nggak bisa nyisihin uang buat sekedar ongkos bensin, makan, dan nonton? Apalagi kalau orang itu adalah seorang cowok. Hellow! Apa pacarnya nggak akan protes? Kalau alasannya buat nabung bikin rumah masa depan, nabung buat nikah, dan hal-hal lain buat masa depan bareng pacar sih oke lah. Tapi, cewek juga butuh dimengerti. Yah, sesekali kasih surprise atau sekedar dinner sederhana di salah satu resto yang range harganya 50.000 - 500.000 kan nggak salah juga? Ya kan? Eh...... Sarahnya jadi curcol deh. Hehehe.

Yowes lah, pada dasarnya tergantung pendapat dan prinsip masing-masing orang sih. Mungkin dengan sangat mengirit uang adalah cara untuk berhemat bagi beberapa orang, yaudah. Itu pendapat mereka. Itu prinsip mereka. Bagaimanapun, prinsip dan pendapat seseorang itu harus dihargai. Tapi, kalau gue pribadi, gue bukan tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uang alias boros kok. Gue juga bukan tipe orang yang suka "mengiritkan" diri sendiri. Rezeki ada yang atur kok. Kalau cuma sekedar makan di resto, hang out di kafe, nonton, atau ongkos bensin buat pergi mall aja, namanya bukan boros kan? Hihihi.

Itu pendapat gue mengenai hemat-hematan. No offense ya. Selamat malam! ;)