Wednesday, 27 April 2016

Mendidik Tak Sekedar Mengajar

27 April 2016,




"Dek, kalau nanti kamu udah kerja jangan lupa gajinya disisihin buat Aa dan Bu Tuti tiap bulannya ya," kata Mama gue tadi sore. Eh, tadi petang deng

Aa itu guru ngaji gue waktu kecil. Sebenarnya beliau biasa dipanggil Umi sih, tapi entah kenapa dari kecil sampai sekarang gue panggil beliau Aa. Hmm mungkin bisa dibilang itu panggilan sayang gue buat guru ngaji gue ituDari gue umur 2 or 3 tahun, gue diajarin ngaji sama beliau sampai gue kelas 6 SD (kalo nggak salah). Nah, karena beliau gue bisa baca Al Qur'an, gue bisa tau tentang agama dan segala macamnya. Sedangkan Ibu Tuti adalah guru TK gue. Sebenarnya beliau juga masih saudara gue sih, saudara jauh. Nah, karena beliau lah gue bisa baca, nulis, ngerti huruf, angka dan segala macamnya. Gue ingat banget dulu Bu Tuti sering bilangin gue pas istirahat, "Sarah, mainnya jangan jauh-jauh ya."

Hahaha! Mungkin waktu kecil gue terbilang nakal kali ya, jadinya suka diingetin buat nggak main jauh-jauh. So, dibilang kayak gitu sama nyokap gue, gue jadi ingat jasa mereka. Sebelumnya gue biasa aja. Ketemu ya cium tangan, hormat... tapi biasa aja. Dan tadi nyokap gue pesan kayak gitu, bikin gue mikir kalau gue selama ini memang nggak pernah bahkan hampir lupa sama jasa mereka. Jasa orang yang bikin gue bisa baca, nulis, berhitung, baca Al Qur'an, tulis huruf hijaiyah dan segala macemnya. Gue selalu ingat sama Bu Lisa ( guru private matematika jaman SMA) dan Miss Indah (guru les Bahasa Inggris). Dan sekarang gue berpikir, kenapa cuma mereka aja yang gue ingat jasanya? Ada guru yang jasanya lebih besar dan tanggung jawabnya pun sangat besar, yaitu guru ngaji gue dan guru TK gue

Gue akuin, gue ini tipe orang yang gampang sayang sama orang lain. Sama teman, bahkan sama guru-guru gue, asisten rumah tangga pun. Gue memang begitu, gampang sayang sama orang :" (dan gampang sakit hatinya). My mom is a teacher. Nyokap gue itu seorang guru SD di salah satu SD swasta, dan merangkap jadi guru private. Gue selalu kasihan sama nyokap gue karena capek-capek kerja, berangkat pagi, pulang malam bahkan kadang sampai harus begadang bikin kurikulum, kisi-kisi, dan segala macamnya. Gue suka kasihan, tapi nyokap gue nggak pernah merasa capek. I'm proud of my mom

Kalau ngomongin masalah gaji, gaji guru sekarang berapa sih? Nggak sebesar kerja di kantor, kan? But my mom doesn't see it. Kalau nyokap gue nggak kerja pun, bokap gue masih sangat amat mampu untuk biayain keluarga. Tapi apa? Nyokap gue menjalani pekerjaannya dengan sangat senang hati, dan tanpa lihat materi. Kalau boleh jujur, gue udah sering banget bilang ke nyokap gue, "Mah, buat apa sih kerja capek-capek? Kerja dari pagi sampai siang buat uang yang nggak seberapa? Lebih enak di rumah, temenin aku di rumah." 

Tapi coba tebak nyokap gue bilang apa?

"Dek, jadi guru itu bukan masalah gaji, tapi panggilan hati. Jadi guru itu bukan sekedar mengajar, tapi juga mendidik dan membentuk pribadi yang baik."

Nyokap gue selalu keras kepala mau jadi guru. Dia senang melihat anak muridnya jadi pintar, jadi punya ilmu. Yang nyokap gue harapkan dari anak muridnya cuma satu, jadi anak yang punya ilmu. Gue punya sedikit cerita, dan kalau ingat cerita ini gue terharu banget sih. Jadi, nyokap gue punya anak didik buat belajar private. Umurnya satu tahun di bawah gue, namanya Andri (cewek). Mama ngajarin Andri sejak Andri masih umur lima tahun, dan berhenti saat Andri lulus SMA. Hari terakhir Mama ngajarin Andri, Mama pulang-pulang nangis. Gue tanya dong, "Kenapa, mah?". Gue takut ada yang jahatin nyokap gue. Tapi nyokap gue bilang, nyokap gue sedih karena merasa kehilangan anak didiknya. And fyi, nyokap gue bilang kalau anak didiknya itu juga nangis dan ngebuat nyokap gue tambah sedih. Dulu gue beberapa kali ikut nyokap gue ngajar private di rumahnya, dan sempat main bareng. Anaknya emang baik banget, dan dia hormat banget sama nyokap gue sampai saat ini. Sekarang dia kuliah di Unpad dan lagi buat thesis, nyokap gue suka nanyain kabarnya dan begitupun sebaliknya. Mungkin bisa dibilang, dia murid kesayangan nyokap gue. Mungkin bisa dibilang juga, nyokap gue udah berhasil ngebentuk karakter baiknya dia. Ya, tentunya juga karena orang tuanya baik sih

I want to say.... bahwa mendidik itu bukan sekedar mengajar. Persis kayak apa yang dibilang nyokap gue. Menjadi seorang guru itu, bukan hanya sekedar ngajarin A, B, 1, 2, 3, alif, ba, ta, tsa.... dan sebagainya. Guru itu punya tanggung jawab lebih selain mencerdaskan generasi selanjutnya, yaitu membentuk akhlak dan pribadi yang baik. Pribadi yang seharusnya. Kalau mengharapkan gaji besar, jangan jadi guru. Yaa, bisa sih dapat gaji besar tapi harus dengan berbagai syarat. Jadi PNS, lulus sertifikasi, dan lainnya. Kalau udah dapat itu semua, yaa dapat tunjangan or uang lebih juga. Tapi buat dapat hal itu nggak gampang, harus punya pengalaman mengajar dan segala macamnya. Tapi yang terpenting, guru itu selalu dipandang orang lain. Guru itu selalu terpandang atas jasanya. Kenapa kemarin gue bilang kalau gue suka sinisin mahasiswa yang ribut di kelas? Itu karena gue sangat amat menghormati guru. My mom is a teacher, so I know what teacher feels about. Tujuan mereka nggak banyak. Mereka pun nggak mengharap banyak, cuma mau anak didiknya mengerti. Gue selalu kagum sama seorang guru, karena jasanya besar banget, tanggung jawabnya besar, tapi nggak mengharapkan imbalan yang banyak dalam segi materi. And I think, naluri mendidik nyokap gue ada di diri gue. Entah kenapa gue selalu ada hasrat buat mendidik dan mengajar anak-anak. Fyi, gue pernah jadi guru TK waktu liburan UN jaman SMA yang lamaaaa banget. Dan gue akuin memang susah banget buat menghandle semua anak-anak, apalagi usianya baru sekitar 5 - 6 tahunan yang masih senang main. But I'm happy. Gue senang lihat anak-anak kecil bahagia, ketawa, main bareng. gue senang saat mereka mau nurut kata-kata gurunya, meskipun harus penuh dengan kesabaran. Gue senang saat ada yang minta ditemenin karena belum dijemputGue senang kalau ada yang bilang, "Bu guru, si ini nakal", "Bu guru itu namanya apa?", Bu guru ini gimana cara buatnya?" 

Hahaha! Gue senang ngerasain itu semua. Meskipun capek dan harus banyak sabar, tapi ngelihat anak-anak kecil tuh rasanya tentram aja. Ketawa mereka tulus. Kata-kata mereka pun masih polos. Senang aja lihatnya. Dan yang paling penting, saat mereka sudah mulai bisa membaca bahkan satu kata aja, itu rasanya bahagia. Kayak kerja keras lo terbayar, dan termotivasi buat bikin anak-anak itu menjadi lebih cerdas

Well, kalau kata nyokap gue sih jangan pernah mengharapkan gaji besar kalau jadi guru. Menjadi guru itu panggilan hati, punya tanggung jawab besar untuk membentuk pribadi yang bermanfaat, yang baik dan berguna untuk semua orang dan bahkan Bangsa. Besar banget, kan? Guru itu contoh untuk murid-muridnya. Jadi, kalau gurunya salah, muridnya ikut salah. That's why seorang guru itu punya tanggung jawab yang besar. So, coba ingat-ingat lagi siapa sih guru pertama kalian? Siapa sih yang selama ini pernah ngajarin kalian? Siapa sih orang yang bikin kalian bisa baca tulis dan berhitung? Kalau masih ingat, coba masukkan namanya kalau kalian sedang berdoa. Jasa mereka besar loh. Kalau nggak ingat nama, pasti masih ingat juga kan sosoknya? Coba di doain juga. Mereka punya jasa yang sangat amat besar sampai kita sekarang bisa kayak gini dan sepintar ini. So, jangan pernah lupain jasa guru kalian ya, karena mereka bukan hanya membuat kita pintar, tapi juga mendidik untuk menjadi pribadi yang baik.

Monday, 25 April 2016

Pentingnya Menghargai Orang Lain

25 April 2016,




Banyak orang bilang kalau generasi sekarang ini adalah generasi yang sulit bilang maaf. Yap! Dengan kata lain, kalau ada salah malah dibilang baper bukannya minta maaf. Gue setuju sih dengan statement itu, tapi gue nggak setuju kalau kita salah dan justru bilang baper bukannya minta maaf. Manusia adalah makhluk sosial, kan? Manusia membutuhkan manusia lainnya. Manusia nggak bisa hidup sendiri. So, menurut gue sangat penting untuk kita mencoba menghargai satu sama lain. Nggak usah jauh-jauh deh, coba ke teman sekitar aja. Nggak usah perbuatan yang besar juga, cukup dengan kata maaf jika salah, terima kasih jika sudah dibantu, dan kata tolong jika minta bantuin. It is so simple, right? Gue bilang kayak gini bukannya mau sok benar atau gue orang paling baik, tapi gue kepikiran aja kalau semakin lama dunia semakin tua. Orang-orang di generasi sekarang juga banyak yang pintar, sukses, sampai kadang sangat mementingkan ego tanpa mikirin orang lain. And I'm so sad to see that.  Seharusnya semakin banyak manusia yang pintar, semakin banyak juga manusia yang tau caranya beretika dan menghargai orang lain

Gue sendiri juga masih banyak dan sering melakukan kesalahan kok. Gue nggak akan munafik dengan bilang gue nggak pernah salah, gue nggak pernah kesal, atau bahkan gue juga pernah khilaf egois dan sama sekali nggak menghargai teman gue. Teman terdekat gue bahkan. Gue bukan Tuhan yang selalu benar, so gue juga sering buat kesalahan. Gue ingat waktu masa kuliah dulu, gue sering banget moody ke teman-teman gue apalagi kalau kerja kelompok. Kadang, telat sedikit aja gue udah bete dan ngediemin teman gue. I want to share my story, ini waktu masa kuliah dulu. So, dulu gue pernah ada kerja kelompok untuk bikin iklan dengan durasi 30 dan 15 detik. Gue, Niken, Yessy, Calvina, Stefie janjian di Gelora Bung Karno jam 6 pagi. Gue udah bilang sebelumnya, itu pagi bangettt dan gue yakin akan ngaret. Keesokan harinya gue bangun pagi-pagi banget sebelum jam 6, dan ternyata dugaan gue benar. Ngaret. Sampai sana gue justru kesal sama salah satu teman gue, karena apa? Karena ngaret. I know gue egois banget saat itu. Gue jutek banget dan sama sekali nggak ngomong sama dia. Padahal dia yang paling sibuk saat itu, sementara gue duduk liatin karena gue lagi moody sama dia.  Nah, disitu gue sama sekali nggak ngehargain teman gue kan?  Dia sibuk sementara gue malah ngambekin dia. Dan saat diminta bantuan pun, gue balas dengan nada jutek meskipun akhirnya gue bantu juga. Gue kayak gitu bukan cuma sekali atau dua kali, udah sering banget kayak gitu ke teman-teman gue. Fiuuhh.... untungnya mereka teman-teman gue. Jadi, meskipun sering gue jutekin, gue ngambekin, mereka tetap fine-fine aja. They know me so well kalau gue memang manja parah anaknya. Sampai saat ini, gue suka nggak enak kalau diingat-ingat. Gue merasa jahat aja udah bersikap nggak baik kayak gitu, meskipun cuma hal kecil

Ada yang bilang, terkadang hidup itu nggak perlu mikirin orang lain. I agree with that, tapi akan tetap ada batasannya. Gue akan setuju kalau ada yang ngomongin kita di belakang, dan kita nggak harus perduliin itu. It means kita selangkah di depan dia, jadi nggak perlu di perduliin. Tapi, lain hal dengan perkataan dan perbuatan. Contoh, lo nonton di bioskop dan lo duduk seenak jidat lo selama di studio. Sementara di studio itu penuh orang. It's annoying, right? Kalau dibilang, "gue kan bayar, Sar. Terserah gue dong mau ngapain." Yaa, I know it, tapi semua juga bayar. Dan dimanapun kita berada, akan tetap ada aturan yang mengharuskan kita untuk menghargai dan menghormati orang lain. Sama halnya kayak kuliah. "Gue kan bayar disini, terserah dong mau dengerin dosen apa enggak." Hmm gue nggak suka banget sih kalau ada yang kayak gini. Percaya atau nggak, gue sering banget sinisin orang pas kuliah dulu. Kenapa? Karena berisik di kelas! Hahaha. Bukannya mau sok pinter sih, tapi gue kasian sama dosen. Sebagai mahasiswa kita harus tau kan hak dan kewajiban kita apa? Memang sih mahasiswa itu bayar dan dosen itu dibayar, tapi dosen itu orang yang harus dihargai dan dihormati. Seenggakya, kalau nggak mau dengerin dosen ngomong ya jangan berisik. Main HP kek, tidur kek, atau nggak usah masuk kelas sekalian. Bukannya malah ganggu dosen dan anak-anak lainnya. Hahaha! Gue jadi nostalgia.

Dulu Juno sering ceramahin gue, kalau gue itu harus belajar untuk nggak egois. Dia tau banget kalau gue itu manja dan sedikit egois, atau mungkin bukan sedikit lagi tapi memang egois banget. Teman-teman gue juga tau itu. Keras kepala dan manja itu udah nunjukkin gue banget. Tapi, Juno sering ceramahin gue dulu untuk merubah sifat gue itu. Gue pernah cerita ke dia kalau gue pernah kehilangan teman di masa SMA. Gue kalau sahabatan sama orang memang pasti sayang banget sih. Gue akan sayang banget sama teman-teman gue kalau gue udah ngerasa klop dan anggap dia sahabat. Kayak Calvina, Yesi, Niken, Sasha, Gregy, dll..... gue nggak akan biarin satu orang pun nyakitin mereka, bahkan ngejelek-jelekin mereka. They are my friend dan gue sayang sama mereka, so I will give my best for them. Okey, lanjut ke ceramahnya Juno. So, gue pernah kehilangan teman di masa SMA. Eh, bukan pas SMA deng, tapi pas baru lulus SMA. Padahal gue kuliah di binus juga biar bisa bareng sama dia, main bareng, belajar bareng, bahkan jurusannya pun sama. Gue sayang banget sama teman gue itu, and one day gue melakukan satu kesalahan. Gue egois bangetttt sampai bilang kata-kata yang mungkin nyakitin dia. Dari situlah kita diem-dieman, dan sampai kuliah pun masih nggak bisa sedekat dulu. Meskipun dalam hati gue yang terdalam gue pengen banget sih bisa dekat kayak dulu lagi. Nah, itu akibat dari sikap gue yang sama sekali nggak menghargai orang lain, bahkan teman sendiri. That's why Juno bilang, gue harus merubah sifat gue itu supaya nggak kehilangan sahabat lagi. Juno tau gue kalau sahabatan bahkan teman dekat-an (bahasa opo toh iku), gue bisa sayang banget sama teman gue itu. Dan karena sifat jelek itu, gue akan kehilangan sahabat gue yang justru bikin gue sedih. Gue sendiri yang nanggung akibatnya kalau udah gitu. Percaya deh, kehilangan sahabat itu lebih sakit dari kehilangan pacar. Beuhhh!

So guys, cuek itu memang terkadang penting, tapi jangan sampai lupa dengan status kita sebagai makhluk sosial. Dimanapun dan kapanpun, akan selalu ada aturan yang membatasi perbuatan kita. Sebisa mungkin hargain dan hormatin orang lain, secuek apapun sifat lo. Respect others if you want to be respected. Semuanya ada timbak balik, sebab akibat. Cuek boleh, tapi jangan sampai lupa untuk menghormati dan menghargai orang lain. Ingat 3 kata ini aja. I always remember these 3 words, karena bokap gue yang dari kecil ngajarin gue untuk membiasakan diri dengan 3 kata ini. Bahkan sama tukang gorengan pun gue diajarin untuk bilang makasih setelah beli. Hahaha! So this is the 3 words:

Tolong, Terima Kasih, Maaf

Friday, 22 April 2016

Macaroni Schotel Simple

22 April 2016,





Selamat Hari Kartini! Gara-gara kemarin gue ngegalau seharian, jadi nggak sempat ucapin selamat hari kartini. So now, gue ngucapin selamat hari kartini. Agak telat sih, tapi nggak papa ya hehe. Tadi sore gue kepikiran buat ngunyah sesuatu. Biasa, kalau habis stress dan ngegalau pasti bawaannya laper terus. Dari pagi nggak berhenti ngunyah! Hahaha. Dan, pas gue cek kulkas, ternyata masih ada sisa makaroni dan susu full cream sisa kemarin bikin Penne Carbonara. Hmm, daripada susunya keburu basi, akhirnya gue bikin aja macaroni schotel dengan bahan-bahan seadanya. Oh ya, ini hasil masakan gue dua hari lalu. Masakan iseng-iseng. Penne Carbonara:



Gue nggak akan share resep Penne Carbonara, tapi gue akan share how to cook Macaroni Schotel. Semua orang pasti tau dong Macaroni Schotel itu apa. Yap! Makaroni Panggang. Makanan ini sih simple banget, dan bahan-bahannya pun sangat simple. Yang utama, tentunya makaroni, susu, dan keju. It's a must untuk membentuk hasil creamynya itu. Cara buatnya? Gampang juga kok. Here it is:
  • 150 gr Macaroni elbow (gue pakai fusilli)
  • 250 ml Susu Full Cream
  • 1 buah bawang bombay, iris halus
  • 3 tbsp bawang putih bubuk (atau secukupnya)
  • 1 tbsp garam
  • 3 butir telur, kocok lepas
  • 1/2 tbsp pala bubuk
  • 1/2 tbsp merica
  • Smoked beef / kornet (gue pakai kornet)
  • 3 buah sosis, iris tipis
  • 100 gr keju Quickmelt (parut / potong dadu)
  • 100 gr keju cheddar parut (atau secukupnya)
  • Loyang / alumunium foil
How to cook:
  • Rebus makaroni hingga 3/4 matang, empuk tapi jangan terlalu lembek. Teteskan sedikit minyak goreng saat rebus makaroni, supaya makaroninya nggak lengket. Kalau sudah matang, tiriskan
  • Tumis bawang bombay hingga harum. Harum itu menunjukkan bahwa bawang bombay sudah nggak mentah. Masukkan sosis dan smoked beef hingga matang.
  • Campurkan keju quickmelt, susu cair, merica, paka bubuk, garam, bawang putih, telur, dan smoked beef yang sudah ditumis. Aduk hingga rata dan campur bersama makaroni yang sudah direbus tadi.
  • Masukkan ke loyang atau alumunium foil. Taburi keju parut di atasnya.
  • Panggang dengan suhu 200 derajat selama 45 menit, gue pakai api bawah dan api atas. 5 menit sebelum keluar dari oven, apinya gue ganti jadi api atas, untuk keringin kejunya. Gue sengaja bikin yang agak garing di atasnya karena lebih suka kalau kejunya garing.

Fyi, baking itu nggak harus berpatokan pada resep. Kadang bisa lebih cepat dan kadang bisa lebih lama. Semua tergantung oven masing-masing yang dipakai. Jadi, pinter-pinter aja lihat kondisi masakan, apa sudah matang atau belum. Oh ya, sebelum baking, panasin ovennya juga terlebih dahulu. Gue biasa panasi oven 150 derajat selamat 5 - 10 menit

Well, itu dia resep gue hari ini. Dapatnya lumayan banyak, bisa buat warga sekomplek! Hahaha nggak deng, bercanda. Dapatnya 10 alumunium foil kotak ukuran sedang. Yah, lumayan lah kalau buat rumah yang penghuninya cuma tiga orang aja kayak gue. Eh, nggak bertiga juga deng. Masih ada yang lain. Yaudahlah ya kok jadi ngomongin keluarga gue?

And.... this is it. Macaroni Schotel yang super simple ala Sarah:

Fresh from the oven







Monday, 4 April 2016

Ayam Saus Tiram Ala Sarah

4 April 2016,





Judul masakan gue kali ini sebenarnya ngasal banget sih. Mau bilang Ayam Kecap, tapi rasanya nggak kayak Ayam Bumbu Kecap, lebih terasa saus tiramnya dibanding kecapnya. So, jadilah gue menamainya Ayam Saus Tiram. Awalnya hari ini gue belajar bikin bento. Tau kan bento itu apa? Kayak semacam lunch box gitu. Biasanya sih isinya nasi, lauk-lauk yang awet dimakan, dan ada sayuran. Biasanya sih di bento itu ada kandungan proteinnya, dan kali ini gue pakai ayam dan telur. Sedangkan sayurnya, gue pakai mixed vegetable gitu. Praktis! Oh ya, dan gue tambahin buah-buahan. But, kali ini gue nggak mau bahas about bento. Kali ini gue mau bahas tentang lauk yang ada di dalamnya, yaitu Ayam Saus Tiram. Gue masak ini berdasrkan resep dari salah satu buku resep gitu. Ini dia bukunya:


Sebenarnya gue coba yang resep Nasi Ayam Tim, tapi gue rasa gagal karena kali ini gue cuma pakai nasi biasa. Sedangkan di resep, nasinya dimasak dengan cara dikukus di dandang pakai bumbu. Sedangkan gue? Gue pakai nasi yang sudah jadi. Tapi, resep untuk pakai bahan ayamnya sama kok

So, bahan yang dibutuhkan untuk memasak Ayam Saus Tiram ini adalah:



  • 1 buah dada ayam fillet (20 ribu-an di Lotte Mart )
  •  4 siung bawang putih, cincang (stock dirumah )
  • 1 buah bawang bombay, cincang (3 ribu di Pasar)
  • Jahe 3 cm, cincang (stock di rumah)
  • 1 buah wortel (seribu / 1 buah di Pasar)
  • Garam sesuai selera (stock di rumah)
  • 1/2 tsp merica bubuk (stock di rumah)
  • 1 tsp saus tiram (2 ribu / sachet)
  • 2 tbsp kecap manis (stock di rumah)
  • Margarin / minyak untuk menumis

Buat ayamnya, sebenarnya bisa pakai chicken cube. Tapi kemarin gue dapatnya chicken fillet, so gue harus potong-potong lagi kayak chicken cube. Dan sebenarnya, gue pun masih terlalu tebal potongnya. Gue baru sadar kalau harusnya dipotong tipis gitu ayamnya. Tapi yaudahlah ya, nggak papa. Terus, kalau berdasarkan resep di buku sih harusnya pakai jamur merang. Nah, berhubung gue nggak terlalu suka jamur, jadi gue ganti pakai wortel aja. Kalau mau coba pakai jamur ya monggo, siapa tau rasanya lebih enakOh ya, buat jahe dan bawng putih, I prefer dihaluskan aja. Kenapa? Karena kalau dicincang kayak gue tadi, makannya jadi kecampur sama jahe. Maksudnya, ayam dan jahenya nyaru gitu. Nggak keliatan kalau ternyata jahe itu adalah ayam. Huhuhu....

Okay! Let's cook!

  • Seperti biasa, kalau mau masuk harus semuanya bersih ya. Cuci tangan, dan semua bahannya harus sudah dicuci terutama ayamnya. Oh ya, cuci ayam itu harus dicuci di air mengalir supaya bakterinya hilang bersama air.
  • Rebus ayam supaya empuk, sampai ayam berubah warna. Sisihkan.
  • Panaskan minyak atau margarin di atas wajan. Gue sih pakai 2 tbsp margarin. Kemudian, masak bawang bombay, bawang putih, dan jahe sampai harum. Ingat! Sampai harum ya, karena kalau nggak matang, jahenya akan terasa banget mentahnya dan itu nggak akan enak.
  • Kalau sudah harum, masukkan ayam dan masak sampai ayam agak kecoklatan. Nggak mateng-mateng banget nggak papa kok.
  • Masukkan wortel, garam, merica, saus tiram, dan kecap manis. Masak hingga harum (lagi)
  • Tambahkan air sedikit demi sedikit, dan masak hingga air mengental. Angkat.
  • Masukkan satu sendok Ayam Saus Tiram dalam mangkuk bulat dan padatkan dengan nasi
  • Tata Ayam Saus Tiram dan nasi di atas piring.

And...... voila! Selesai deh masaknya. Sebenarnya gampang kok bikinnya, cuma tumis-tumis aja. Tapi, berhubung tadi gue masak yang lainnya juga, dan gue juga perlu rebus mixed vegetable, jadinya gue masaknya lama deh. Ini dia Ayam Saus Tiram buatan gue.


Aslinya nggak segosong itu kok. Trust me! Aslinya biasa aja. Oh ya, gue juga bikin versi bentonya nih.


Gimana? Keliatannya enak nggak? Hihi. Kali ini ayamnya gue hidangkan bersama telur gulung. Gimana cara bikin telur gulung? Gampang. Kayak bikin telur dadar biasa aja, tapi digulung di atas wajan

Okey deh. Itu dia Ayam Saus Tiram ala Sarah. Soal rasa, nggak buruk kok meskipun masih kalah sama masakan restoran bintang lima. Hihihi. Selamat mencoba yaa. Happy cooking!