Monday, 25 April 2016

Pentingnya Menghargai Orang Lain

25 April 2016,




Banyak orang bilang kalau generasi sekarang ini adalah generasi yang sulit bilang maaf. Yap! Dengan kata lain, kalau ada salah malah dibilang baper bukannya minta maaf. Gue setuju sih dengan statement itu, tapi gue nggak setuju kalau kita salah dan justru bilang baper bukannya minta maaf. Manusia adalah makhluk sosial, kan? Manusia membutuhkan manusia lainnya. Manusia nggak bisa hidup sendiri. So, menurut gue sangat penting untuk kita mencoba menghargai satu sama lain. Nggak usah jauh-jauh deh, coba ke teman sekitar aja. Nggak usah perbuatan yang besar juga, cukup dengan kata maaf jika salah, terima kasih jika sudah dibantu, dan kata tolong jika minta bantuin. It is so simple, right? Gue bilang kayak gini bukannya mau sok benar atau gue orang paling baik, tapi gue kepikiran aja kalau semakin lama dunia semakin tua. Orang-orang di generasi sekarang juga banyak yang pintar, sukses, sampai kadang sangat mementingkan ego tanpa mikirin orang lain. And I'm so sad to see that.  Seharusnya semakin banyak manusia yang pintar, semakin banyak juga manusia yang tau caranya beretika dan menghargai orang lain. 

Gue sendiri juga masih banyak dan sering melakukan kesalahan kok. Gue nggak akan munafik dengan bilang gue nggak pernah salah, gue nggak pernah kesal, atau bahkan gue juga pernah khilaf egois dan sama sekali nggak menghargai teman gue. Teman terdekat gue bahkan. Gue bukan Tuhan yang selalu benar, so gue juga sering buat kesalahan. Gue ingat waktu masa kuliah dulu, gue sering banget moody ke teman-teman gue apalagi kalau kerja kelompok. Kadang, telat sedikit aja gue udah bete dan ngediemin teman gue. I want to share my story, ini waktu masa kuliah dulu. So, dulu gue pernah ada kerja kelompok untuk bikin iklan dengan durasi 30 dan 15 detik. Gue, Niken, Yessy, Calvina, Stefie janjian di Gelora Bung Karno jam 6 pagi. Gue udah bilang sebelumnya, itu pagi bangettt dan gue yakin akan ngaret. Keesokan harinya gue bangun pagi-pagi banget sebelum jam 6, dan ternyata dugaan gue benar. Ngaret. Sampai sana gue justru kesal sama salah satu teman gue, karena apa? Karena ngaret. I know gue egois banget saat itu. Gue jutek banget dan sama sekali nggak ngomong sama dia. Padahal dia yang paling sibuk saat itu, sementara gue duduk liatin karena gue lagi moody sama dia.  Nah, disitu gue sama sekali nggak ngehargain teman gue kan?  Dia sibuk sementara gue malah ngambekin dia. Dan saat diminta bantuan pun, gue balas dengan nada jutek meskipun akhirnya gue bantu juga. Gue kayak gitu bukan cuma sekali atau dua kali, udah sering banget kayak gitu ke teman-teman gue. Fiuuhh.... untungnya mereka teman-teman gue. Jadi, meskipun sering gue jutekin, gue ngambekin, mereka tetap fine-fine aja. They know me so well kalau gue memang manja parah anaknya. Sampai saat ini, gue suka nggak enak kalau diingat-ingat. Gue merasa jahat aja udah bersikap nggak baik kayak gitu, meskipun cuma hal kecil. 

Ada yang bilang, terkadang hidup itu nggak perlu mikirin orang lain. I agree with that, tapi akan tetap ada batasannya. Gue akan setuju kalau ada yang ngomongin kita di belakang, dan kita nggak harus perduliin itu. It means kita selangkah di depan dia, jadi nggak perlu di perduliin. Tapi, lain hal dengan perkataan dan perbuatan. Contoh, lo nonton di bioskop dan lo duduk seenak jidat lo selama di studio. Sementara di studio itu penuh orang. It's annoying, right? Kalau dibilang, "gue kan bayar, Sar. Terserah gue dong mau ngapain." Yaa, I know it, tapi semua juga bayar. Dan dimanapun kita berada, akan tetap ada aturan yang mengharuskan kita untuk menghargai dan menghormati orang lain. Sama halnya kayak kuliah. "Gue kan bayar disini, terserah dong mau dengerin dosen apa enggak." Hmm gue nggak suka banget sih kalau ada yang kayak gini. Percaya atau nggak, gue sering banget sinisin orang pas kuliah dulu. Kenapa? Karena berisik di kelas! Hahaha. Bukannya mau sok pinter sih, tapi gue kasian sama dosen. Sebagai mahasiswa kita harus tau kan hak dan kewajiban kita apa? Memang sih mahasiswa itu bayar dan dosen itu dibayar, tapi dosen itu orang yang harus dihargai dan dihormati. Seenggakya, kalau nggak mau dengerin dosen ngomong ya jangan berisik. Main HP kek, tidur kek, atau nggak usah masuk kelas sekalian. Bukannya malah ganggu dosen dan anak-anak lainnya. Hahaha! Gue jadi nostalgia.

Dulu Juno sering ceramahin gue, kalau gue itu harus belajar untuk nggak egois. Dia tau banget kalau gue itu manja dan sedikit egois, atau mungkin bukan sedikit lagi tapi memang egois banget. Teman-teman gue juga tau itu. Keras kepala dan manja itu udah nunjukkin gue banget. Tapi, Juno sering ceramahin gue dulu untuk merubah sifat gue itu. Gue pernah cerita ke dia kalau gue pernah kehilangan teman di masa SMA. Gue kalau sahabatan sama orang memang pasti sayang banget sih. Gue akan sayang banget sama teman-teman gue kalau gue udah ngerasa klop dan anggap dia sahabat. Kayak Calvina, Yesi, Niken, Sasha, Gregy, dll..... gue nggak akan biarin satu orang pun nyakitin mereka, bahkan ngejelek-jelekin mereka. They are my friend dan gue sayang sama mereka, so I will give my best for them. Okey, lanjut ke ceramahnya Juno. So, gue pernah kehilangan teman di masa SMA. Eh, bukan pas SMA deng, tapi pas baru lulus SMA. Padahal gue kuliah di binus juga biar bisa bareng sama dia, main bareng, belajar bareng, bahkan jurusannya pun sama. Gue sayang banget sama teman gue itu, and one day gue melakukan satu kesalahan. Gue egois bangetttt sampai bilang kata-kata yang mungkin nyakitin dia. Dari situlah kita diem-dieman, dan sampai kuliah pun masih nggak bisa sedekat dulu. Meskipun dalam hati gue yang terdalam gue pengen banget sih bisa dekat kayak dulu lagi. Nah, itu akibat dari sikap gue yang sama sekali nggak menghargai orang lain, bahkan teman sendiri. That's why Juno bilang, gue harus merubah sifat gue itu supaya nggak kehilangan sahabat lagi. Juno tau gue kalau sahabatan bahkan teman dekat-an (bahasa opo toh iku), gue bisa sayang banget sama teman gue itu. Dan karena sifat jelek itu, gue akan kehilangan sahabat gue yang justru bikin gue sedih. Gue sendiri yang nanggung akibatnya kalau udah gitu. Percaya deh, kehilangan sahabat itu lebih sakit dari kehilangan pacar. Beuhhh!

So guys, cuek itu memang terkadang penting, tapi jangan sampai lupa dengan status kita sebagai makhluk sosial. Dimanapun dan kapanpun, akan selalu ada aturan yang membatasi perbuatan kita. Sebisa mungkin hargain dan hormatin orang lain, secuek apapun sifat lo. Respect others if you want to be respected. Semuanya ada timbak balik, sebab akibat. Cuek boleh, tapi jangan sampai lupa untuk menghormati dan menghargai orang lain. Ingat 3 kata ini aja. I always remember these 3 words, karena bokap gue yang dari kecil ngajarin gue untuk membiasakan diri dengan 3 kata ini. Bahkan sama tukang gorengan pun gue diajarin untuk bilang makasih setelah beli. Hahaha! So this is the 3 words:

Tolong, Terima Kasih, Maaf

Friday, 22 April 2016

Macaroni Schotel Simple

22 April 2016,





Selamat Hari Kartini! Gara-gara kemarin gue ngegalau seharian, jadi nggak sempat ucapin selamat hari kartini. So now, gue ngucapin selamat hari kartini. Agak telat sih, tapi nggak papa ya hehe. Tadi sore gue kepikiran buat ngunyah sesuatu. Biasa, kalau habis stress dan ngegalau pasti bawaannya laper terus. Dari pagi nggak berhenti ngunyah! Hahaha. Dan, pas gue cek kulkas, ternyata masih ada sisa makaroni dan susu full cream sisa kemarin bikin Penne Carbonara. Hmm, daripada susunya keburu basi, akhirnya gue bikin aja macaroni schotel dengan bahan-bahan seadanya. Oh ya, ini hasil masakan gue dua hari lalu. Masakan iseng-iseng. Penne Carbonara:



Gue nggak akan share resep Penne Carbonara, tapi gue akan share how to cook Macaroni Schotel. Semua orang pasti tau dong Macaroni Schotel itu apa. Yap! Makaroni Panggang. Makanan ini sih simple banget, dan bahan-bahannya pun sangat simple. Yang utama, tentunya makaroni, susu, dan keju. It's a must untuk membentuk hasil creamynya itu. Cara buatnya? Gampang juga kok. Here it is:
  • 150 gr Macaroni elbow (gue pakai fusilli)
  • 250 ml Susu Full Cream
  • 1 buah bawang bombay, iris halus
  • 3 tbsp bawang putih bubuk (atau secukupnya)
  • 1 tbsp garam
  • 3 butir telur, kocok lepas
  • 1/2 tbsp pala bubuk
  • 1/2 tbsp merica
  • Smoked beef / kornet (gue pakai kornet)
  • 3 buah sosis, iris tipis
  • 100 gr keju Quickmelt (parut / potong dadu)
  • 100 gr keju cheddar parut (atau secukupnya)
  • Loyang / alumunium foil
How to cook:
  • Rebus makaroni hingga 3/4 matang, empuk tapi jangan terlalu lembek. Teteskan sedikit minyak goreng saat rebus makaroni, supaya makaroninya nggak lengket. Kalau sudah matang, tiriskan
  • Tumis bawang bombay hingga harum. Harum itu menunjukkan bahwa bawang bombay sudah nggak mentah. Masukkan sosis dan smoked beef hingga matang.
  • Campurkan keju quickmelt, susu cair, merica, paka bubuk, garam, bawang putih, telur, dan smoked beef yang sudah ditumis. Aduk hingga rata dan campur bersama makaroni yang sudah direbus tadi.
  • Masukkan ke loyang atau alumunium foil. Taburi keju parut di atasnya.
  • Panggang dengan suhu 200 derajat selama 45 menit, gue pakai api bawah dan api atas. 5 menit sebelum keluar dari oven, apinya gue ganti jadi api atas, untuk keringin kejunya. Gue sengaja bikin yang agak garing di atasnya karena lebih suka kalau kejunya garing.

Fyi, baking itu nggak harus berpatokan pada resep. Kadang bisa lebih cepat dan kadang bisa lebih lama. Semua tergantung oven masing-masing yang dipakai. Jadi, pinter-pinter aja lihat kondisi masakan, apa sudah matang atau belum. Oh ya, sebelum baking, panasin ovennya juga terlebih dahulu. Gue biasa panasi oven 150 derajat selamat 5 - 10 menit. 

Well, itu dia resep gue hari ini. Dapatnya lumayan banyak, bisa buat warga sekomplek! Hahaha nggak deng, bercanda. Dapatnya 10 alumunium foil kotak ukuran sedang. Yah, lumayan lah kalau buat rumah yang penghuninya cuma tiga orang aja kayak gue. Eh, nggak bertiga juga deng. Masih ada yang lain. Yaudahlah ya kok jadi ngomongin keluarga gue?

And.... this is it. Macaroni Schotel yang super simple ala Sarah:

Fresh from the oven







Monday, 4 April 2016

Ayam Saus Tiram Ala Sarah

4 April 2016,





Judul masakan gue kali ini sebenarnya ngasal banget sih. Mau bilang Ayam Kecap, tapi rasanya nggak kayak Ayam Bumbu Kecap, lebih terasa saus tiramnya dibanding kecapnya. So, jadilah gue menamainya Ayam Saus Tiram. Awalnya hari ini gue belajar bikin bento. Tau kan bento itu apa? Kayak semacam lunch box gitu. Biasanya sih isinya nasi, lauk-lauk yang awet dimakan, dan ada sayuran. Biasanya sih di bento itu ada kandungan proteinnya, dan kali ini gue pakai ayam dan telur. Sedangkan sayurnya, gue pakai mixed vegetable gitu. Praktis! Oh ya, dan gue tambahin buah-buahan. But, kali ini gue nggak mau bahas about bento. Kali ini gue mau bahas tentang lauk yang ada di dalamnya, yaitu Ayam Saus Tiram. Gue masak ini berdasrkan resep dari salah satu buku resep gitu. Ini dia bukunya:


Sebenarnya gue coba yang resep Nasi Ayam Tim, tapi gue rasa gagal karena kali ini gue cuma pakai nasi biasa. Sedangkan di resep, nasinya dimasak dengan cara dikukus di dandang pakai bumbu. Sedangkan gue? Gue pakai nasi yang sudah jadi. Tapi, resep untuk pakai bahan ayamnya sama kok. 

So, bahan yang dibutuhkan untuk memasak Ayam Saus Tiram ini adalah:



  • 1 buah dada ayam fillet (20 ribu-an di Lotte Mart )
  •  4 siung bawang putih, cincang (stock dirumah )
  • 1 buah bawang bombay, cincang (3 ribu di Pasar)
  • Jahe 3 cm, cincang (stock di rumah)
  • 1 buah wortel (seribu / 1 buah di Pasar)
  • Garam sesuai selera (stock di rumah)
  • 1/2 tsp merica bubuk (stock di rumah)
  • 1 tsp saus tiram (2 ribu / sachet)
  • 2 tbsp kecap manis (stock di rumah)
  • Margarin / minyak untuk menumis

Buat ayamnya, sebenarnya bisa pakai chicken cube. Tapi kemarin gue dapatnya chicken fillet, so gue harus potong-potong lagi kayak chicken cube. Dan sebenarnya, gue pun masih terlalu tebal potongnya. Gue baru sadar kalau harusnya dipotong tipis gitu ayamnya. Tapi yaudahlah ya, nggak papa. Terus, kalau berdasarkan resep di buku sih harusnya pakai jamur merang. Nah, berhubung gue nggak terlalu suka jamur, jadi gue ganti pakai wortel aja. Kalau mau coba pakai jamur ya monggo, siapa tau rasanya lebih enak. Oh ya, buat jahe dan bawng putih, I prefer dihaluskan aja. Kenapa? Karena kalau dicincang kayak gue tadi, makannya jadi kecampur sama jahe. Maksudnya, ayam dan jahenya nyaru gitu. Nggak keliatan kalau ternyata jahe itu adalah ayam. Huhuhu....

Okay! Let's cook!

  • Seperti biasa, kalau mau masuk harus semuanya bersih ya. Cuci tangan, dan semua bahannya harus sudah dicuci terutama ayamnya. Oh ya, cuci ayam itu harus dicuci di air mengalir supaya bakterinya hilang bersama air.
  • Rebus ayam supaya empuk, sampai ayam berubah warna. Sisihkan.
  • Panaskan minyak atau margarin di atas wajan. Gue sih pakai 2 tbsp margarin. Kemudian, masak bawang bombay, bawang putih, dan jahe sampai harum. Ingat! Sampai harum ya, karena kalau nggak matang, jahenya akan terasa banget mentahnya dan itu nggak akan enak.
  • Kalau sudah harum, masukkan ayam dan masak sampai ayam agak kecoklatan. Nggak mateng-mateng banget nggak papa kok.
  • Masukkan wortel, garam, merica, saus tiram, dan kecap manis. Masak hingga harum (lagi). 
  • Tambahkan air sedikit demi sedikit, dan masak hingga air mengental. Angkat.
  • Masukkan satu sendok Ayam Saus Tiram dalam mangkuk bulat dan padatkan dengan nasi. 
  • Tata Ayam Saus Tiram dan nasi di atas piring.

And...... voila! Selesai deh masaknya. Sebenarnya gampang kok bikinnya, cuma tumis-tumis aja. Tapi, berhubung tadi gue masak yang lainnya juga, dan gue juga perlu rebus mixed vegetable, jadinya gue masaknya lama deh. Ini dia Ayam Saus Tiram buatan gue.


Aslinya nggak segosong itu kok. Trust me! Aslinya biasa aja. Oh ya, gue juga bikin versi bentonya nih.


Gimana? Keliatannya enak nggak? Hihi. Kali ini ayamnya gue hidangkan bersama telur gulung. Gimana cara bikin telur gulung? Gampang. Kayak bikin telur dadar biasa aja, tapi digulung di atas wajan. 

Okey deh. Itu dia Ayam Saus Tiram ala Sarah. Soal rasa, nggak buruk kok meskipun masih kalah sama masakan restoran bintang lima. Hihihi. Selamat mencoba yaa. Happy cooking! 

Thursday, 3 March 2016

Sweet & Sour Chicken Recipe

3 Maret 2016,



Daripada malem-malem ngegalau, nggak ada kerjaan, mending ngeblog and talking about my first cooking experience. Well, sebenarnya bukan first juga sih. Ini udah ke-sekian kalinya gue masak, tapi nggak pernah gue ceritain di blog kan? Sebelumnya gue pernah masak chicken curry rice, mashed potato, cilok..... but today I cooked Sweet & Sour Chicken, or sebenarnya sih lebih ke Ayam Kuluyuk. Sebenarnya daridulu gue suka masak, tapi suka kebawa males karena udah capek kuliah, magang, and else. So, berhubung gue masih nganggur, jadinya gue coba-coba masak lagi deh. Dan gue juga lagi sering liat video BuzzFeed Food di facebook. Tambah semangat deh gue masaknya. Okay, untuk membuat ayam kuluyuk, ini dia bahan-bahannya:

wortel, bombay, tepung bumbu crispy

Chicken cube
putih telur

nanas

saus sambal & saus tomat 

1.   200 gr (kira-kira) chicken cube. (Rp 16.000 di Lotte Mart)
2.   1 buah wortel, iris tipis (stock di rumah)
3.   1/2 bawang bombay ( Rp 3.000 di tukang sayur keliling)
4.   Tepung bumbu crispy (Rp 6.000 di Lotte Mart)
5.   Nanas (Rp. 3000 / slice di tukang rujak)
6.   2 sdm saus sambal (stock di rumah)
7.   2 sdm saus tomat (stock di rumah)
8.   Garam (stock di rumah)
9.   Merica bubuk (Rp 27.000-an di Lotte Mart)
10. Minyak (stock di rumah)
11. Mentega (stock di rumah)

Kalau dikalkulasiin, buat bikin ayam ini nggak terlalu mahal kok. Rata-rata bahan yang mau dipakai pun, udah ada stocknya di rumah. So, nggak perlu keluar duit lagi kan? hehe. Seharusnya pakai paprika juga, tapi karena gue nggak suka paprika, so gue nggak masukin paprika di resep gue ini. Dan, kalau mau pakai chicken fillet juga bisa, tapi berhubung gue males potong-potongnya lagi, jadi gue pakai chicken cube aja. Okay! Let's cooking.

So, yang dilakukan pertama kali adalah mencuci bersih semua bahan-bahannya (termasuk ayam, bawang bombay, dan wortel). Kenapa harus dicuci bersih? Buat make sure kalau di makanan lo nggak ada kumannya lagi. Apalagi ayam, kadang-kadang masih ada darahnya yang nempel dan sebagainya. Makanya, harus dicuci dulu yaa biar bersih. Oh ya, pastiin juga tangan lo udah bersih sebelum pegang semua bahan-bahannya. Kemudian, iris-iris deh tuh wortel dan bawang bombaynya. Wortelnya diiris panjang kayak kentang kering gitu. Kalau bawang bombay, menurut gue sih setengah aja udah cukup. Gue memang nggak terlalu suka bawang bombay. Nanasnya juga dipotong dadu ya, supaya gampang buat ditumisnya. Gue beli 2 slice di tukang rujak, dan ternyata yang terpakai cuma 1 nanas. Sebenarnya bebas sih mau pakai berapa nanas, tapi karena menurut gue 1 aja udah cukup, jadi gue cuma pakai 1. Sisanya? Buat nyemil malam. 



Mengolah Ayam
Nah, sekarang waktunya kita mengolah ayam. Kalau ayamnya sudah dicuci bersih, cuma tinggal dicelup aja ke putih telur. Ingat, cuma putih telur, nggak pakai kuningnya. Kenapa harus pakai putih telur? Karena putih telur itu bahan perekat supaya tepungnya nempel. Dulu, pas awal-awal masak, gue pernah bikin ayam goreng tepung tapi nggak pakai putih telur. Alhasil, tepungnya nggak nempel dan jadinya ngeleber kemana-mana pas digoreng. So, ayamnya harus dilumuri putih telur dulu yaa, baru deh selanjutnya dilumuri tepung. Kayak gini nih:


Oh ya! Chicken cube-nya ini sebenarnya udah gue rendam pakai air panas sebelumnya. Jadi, setelah dicuci bersih, gue rendam chicken cubenya pakai air panas yang dicampur garam + kaldu bubuk. Tujuannya sih supaya ada rasa-rasa yang meresap gitu di ayamnya. Hehehe. Nah, kalau udah dibalurin ke tepung kayak tadi, siapin wajan dan minyak goreng di atas kompor. Tunggu sampai minyaknya panas, kemudian goreng ayamnya yang udah dibalurin tepung bumbu itu. Kalau udah digoreng, tunggu sampai agak menguning dan angkat.



Mengolah Saus
Kalau cuma ayam crispy aja, kayaknya udah mainstream. So, mari kita buat sausnya! Supaya ayamnya lebih ada rasanya. Hehehe. Okay! Pertama, panasin 2 sendok mentega di atas wajan / teflon. Buat bikin sausnya gampang kok. Cuma tinggal di tumis aja. Kalau menteganya udah panas, masukin irisan wortel dan bawang bombay. Ditumis sampai wangi yaa, sampai kira-kira bawang bombaynya udah matang atau setengah matang. Kalau sekiranya udah wangi, masukin juga saus sambal dan saus tomat. Kedua saus ini sebenarnya bisa berapa aja takarannya sesuai selera. Tapi kalau tadi siang, gue cuma pakai masing-masing 2 sendok makan. Oh ya, kasih air juga supaya sausnya nggak gosong. Kasihnya dikit-dikit aja. Kalau sekiranya terlalu kental, kasih air lagi dan seterusnya. Tapi jangan terlalu cair juga yaa, nanti malah jadinya cair. Kemudian, masukin garam secukupnya dan merica, atau lada bubuk. Kalau suka pedas, mericanya boleh agak banyak. Dicicip-cicip aja buat ngira-ngira kalau rasanya udah pas atau belum. Nah, setelah itu baru deh masukin nanasnya. Kalau bisa sih pilih nanas yang sudah agak matang dan agak manis yaa, supaya nanti terasa sedikit-sedikit rasa nanasnya. Kalau nanasnya nggak manis, kadang nggak terlalu terasa nanasnya. Cuma terasa saus sambal dan tomat aja. Kemudian, tumis sampai matang di wajan yang sama. Kalau sekiranya sausnya udah cukup atau udah matang, kalian boleh masukin ayamnya yang udah digoreng tadi ke dalam wajan. Yaa, buat dicampur sama sausnya. Kalau ditumis berbarengan gitu, rasanya lebih meresap daripada cuma ditaruh di atas ayamnya aja. But, karena tadi gue masak buat Mbak gue juga, jadinya gue pisahin saus dan ayamnya. Takut Mbak gue nggak suka pedas. Hehehe. 

Nah, kalau warnanya udah merah dan udah matang gitu, angkat deh ayam asam manisnya. Pindahin ke piring dan sajikan bersama nasi hangat. beuuh! Apalagi kalau makannya pas lagi laper-lapernya. Nikmaaaat.....

Well, that was my experience of cooking Sweet & Sour Chicken. Tadi gue masak kebanyakan. So, gue suruh si Peter (teman gue) ke rumah buat makan masakan gue. Hahahaha! Doi makannya kalap banget. Yaa kalau dari rasa sih, lumayan lah ya meskipun masih beda jauh rasanya kalau dibanding sama restoran bintang lima. Hihihi. But overall, berdasarkan dari para penyicip (Mbak gue & Peter), rasanya enak kook meskipun agak pedas. 

And.... thi is it..... Sweet & Sour Chicken ala Chef Sarah (ngomongnya ala-ala kayak Farah Quin gitu) :p